[Anime] Kotonoha no Niwa

Garden_of_Words_poster Judul: Kotonoha no Niwa (The Garden of Words)

Sutradara: Makoto Shinkai

Produser: Noritaka Kawaguchi

Skenario: Makoto Shinkai

Musik: Daisuke Kashiwa

Studio: CoMix Wave Films

Tanggal rilis: 31 Mei 2013 (Jepang)

Durasi: 46 menit

Sinopsis:

Akizuki Takao, seorang siswa berusia 15 tahun, memilih untuk tidak masuk kelas pada jam pertama pada suatu pagi yang basah oleh hujan. Ia justru pergi ke sebuah taman di Shinjuku Gyoen dan menggambar sketsa sepatu di sana. Sesampainya di taman, ia bertemu dengan seorang wanita berusia 27 tahun yang membolos kerja dan menikmati bir dan cokelat di sana. Mereka hanya bercakap-cakap sebentar sebelum wanita itu mengucapkan sebait puisi yang membuat Takao bertanya-tanya.

Narukami no, sukoshi toyomite

sashi kumori

ame mo furanuka

kimi wo todomemu

Tepukan guruh yang samar

Langit mendung,

mungkin hujan akan datang

Jika demikian, akankah kau tinggal di sisiku?

(Yukino)

Mengetahui film ini dari Mbak Ziyy, saya memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak. Nama Makoto Shinkai dan trailer yang disuguhkan membuat saya semakin penasaran. Sayangnya, saya baru berkesempatan untuk menontonnya kemarin pagi. Empat puluh enam menit terasa singkat karena saya dibuat terkesima dengan karakter, cerita, artwork, dan musik yang saling mengisi sehingga membuat film ini begitu indah dan berkesan bagi saya. Namun, sebenarnya, seperti judulnya, film ini digerakkan oleh kata-kata, dalam artian dialog dan monolog yang indah.

Karakter

Film ini menggandengkan dua karakter utama yang kontras, baik dari segi umur maupun kepribadian. Takao yang masih belia, berusia 15 tahun, tetapi telah memilih jalan masa depannya dengan yakin: menjadi pembuat sepatu. Ia tidak peduli dengan kehidupan masa remajanya, ia tidak memikirkan sikap acuh tak acuh ibunya, ia tidak peduli dengan segala formalitas untuk hadir di sekolah. Yang ia pikirkan adalah bagaimana agar impiannya bisa tercapai (dan belakangan, setelah beberapa kali bertemu dengan seorang wanita di taman, ia menginginkan untuk menjadi dewasa secepatnya). Sementara itu, karakter lainnya adalah seorang wanita berusia 27 tahun yang membolos dari tempat kerjanya selama beberapa waktu dan sangat menikmati bir serta cokelat. Dalam trailer, wanita itu mengatakan bahwa dirinya di usia 27 tahun tidak sedikitpun lebih pintar daripada dirinya pada usia 15 tahun. Kalimat ini seolah menyiratkan bahwa tidak ada perkembangan yang berarti selama 12 tahun terakhir hidupnya.

Namun demikian, terlepas dari perbedaan di antara mereka, ada dua hal yang menghubungkan Takao dan wanita itu yaitu hujan dan sepatu. Hujan, karena kedua tokoh utama ini sama-sama menyukai hujan dalam artian ‘rela melewatkan kegiatan yang harusnya dilakukan asalkan bisa menikmati hujan’. Serta sepatu, karena kesibukan Takao dalam mendesain sepatu sedikit banyak mengisi pembicaraan di antara mereka (dan akhirnya  berkembang ke arah yang lebih serius).

Cerita

Yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana hubungan antara seorang remaja laki-laki dengan seorang wanita dewasa terlihat berbeda dibandingkan film atau drama lain yang mengangkat tema yang serupa. Hanya perbincangan, bertukar bekal, dan membiarkan satu sama lain sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ya, Takao dan wanita itu bukannya melulu bertukar kalimat manis dan sentuhan afektif.

Saya tidak tahu apakah ini karena kenaifan saya atau apa, yang jelas saya tidak sedikitpun melihat bahwa wanita yang lebih dewasa memanfaatkan laki-laki yang masih belia (seperti yang mungkin ditangkap oleh sebagian penonton). Bagi saya, mereka berdua sama-sama kesepian dan ingin mencari seseorang yang bisa melengkapi diri mereka (dan pada tingkatan tertentu, seseorang yang menjadi alasan bagi masing-masing tokoh untuk bertahan dan meneruskan kehidupannya).Tidak dapat dipungkiri, hubungan antara seorang pelajar dengan wanita dewasa selalu mendapatkan penilaian tersendiri dari masyarakat. Namun, kedua tokoh utama dalam film ini hidup seolah tersisih dari masyarakat, seakan berada di dalam dunia mereka sendiri, jadi apa yang harus mereka khawatirkan? Setidaknya itu yang saya amati dalam film ini.

Artwork

Gambar latar yang realistis dan detail merupakan salah satu kelebihan dari film ini, sekaligus merupakan ciri khas dari karya-karya Makoto Shinkai. Tetesan hujan yang membentuk riak di atas tanah, berkas sinar matahari yang menyusup melalui dedaunan, langit yang berawan, maupun langit yang cerah dengan sinar matahari yang terik digambarkan mendekati aslinya. Gambar karakter memang tidak terlihat sangat realistis, tetapi itu bukan menjadi poin minus dari Kotonoha no Niwa ini.

Musik

Berbeda dengan karya-karya Makoto Shinkai sebelumnya yang menggandeng Tenmon sebagai  komposer untuk musik latar, musik latar dalam Kotonoha no Niwa digubah oleh Daisuke Kashiwa. Musik latar didominasi oleh bunyi piano yang, bersama dengan bunyi rintik hujan, sangat sesuai untuk menciptakan emosi dalam berbagai adegan. Sementara itu, ending theme untuk Kotonoha no Niwa adalah sebuah lagu berjudul Rain yang dinyanyikan oleh Motohiro Hata untuk film ini.

Lainnya

Kekuatan lain dalam film ini ada pada monolog dan dialog para tokohnya, khususnya yang diucapkan oleh kedua tokoh utamanya. Ada banyak kalimat-kalimat indah yang bisa ditemukan dalam film ini, yang membuat saya tertegun dan ikut merasakan kekhawatiran, impian, kesedihan, ketakutan, dan emosi lain yang dimiliki oleh para tokoh. Tentu saja, hal ini tidak terlepas dari peran Irino Miyu (Takao) dan Hanazawa Kana (Yukino), serta pengisi suara lain yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

Menonton film ini seperti mengingatkan saya dengan kehidupan saya sendiri, meskipun tidak persis sama dengan yang dihadapi para tokoh dalam film ini. Namun, kenaifan remaja dan ketakutan yang dihadapi oleh orang dewasa, adalah dua hal yang sulit dielakkan dan setidaknya pernah menjadi bagian dari kehidupan saya. Dari film ini, saya ingin belajar untuk menata diri, tak peduli dengan sesulit apa pun tantangan yang telah, sedang, dan akan hadir dalam kehidupan ini.

Narukami no, sukoshi toyomite

furazu to mo

ware wa tomaramu

imoshi todomeba

Tepukan guruh yang samar

Bahkan bila hujan datang atau tidak,

aku akan tetap di sini

bersamamu.

(Takao)

Catatan:

Kedua bait tanka yang ada di dalam film ini merupakan puisi ke-2.513 dan 2.514 dalam kumpulan puisi Man’yōshū. Sementara itu, yang tertulis di dalam ulasan ini merupakan terjemahan bebas dari versi bahasa Inggris puisi tersebut.

Gambar dan berbagai informasi terkait film ini  berasal dari laman wikipedia untuk The Garden of Words. Kerangka ulasan dan poin-poin tertentu yang saya kemukakan dalam ulasan ini terinspirasi dari ulasan Isaac Leung untuk film ini.

Advertisements

5 thoughts on “[Anime] Kotonoha no Niwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s