Generalis versus Spesialis [Bagian 2-END]

specialist_versus_generalist

Diambil dari sini. Bagian 1 bisa dibaca di sini.

Bagian 2: Generalis, Spesialis, atau Dua-duanya?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sebelum melangkah lebih jauh, sebenarnya apa perbedaan generalis dengan spesialis?

George Bradt, salah seorang kontributor Forbes, memberikan definisi yang menarik mengenai generalis dan spesialis dalam tulisannya. Suatu definisi yang sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan di antara banyak orang

A generalist knows less and less about more and more until eventually he or she knows nothing about everything. A specialist knows more and more about less and less until eventually he or she knows everything about nothing.

Berbekal beberapa referensi yang saya temukan di internet, ada berbagai pendapat terkait generalis versus spesialis. Ada yang pro spesialis, pro generalis, dan bahkan ada pula yang cenderung netral. Berikut penjelasan untuk masing-masingnya.

Pro generalis

Meghan Casserly, dalam artikel yang ditulisnya untuk Forbes, menyatakan bahwa meskipun banyak spesialis dibutuhkan dalam berbagai perusahaan besar dengan lingkungan kerja yang sangat kompetitif, kenyataannya, hal ini hanya akan terjadi dalam kondisi yang sempurna dan cenderung stabil. Menjadi generalis akan memungkinkan seseorang untuk bertahan dalam menghadapi pergeseran lingkungan kerja. Menurut Carter Phipps yang dikutip oleh Casserly dalam tulisannya tersebut,

We’ve become a society that’s data rich and meaning poor. A rise in specialists in all areas—science, math, history, psychology—has left us with tremendous content but how valuable is that knowledge without context?

Konteks, menurut Phipps, hanya bisa diberikan oleh para generalis yang keluasan pengetahuannya mampu bertindak sebagai penghubung antara terobosan ilmiah (yang diperoleh dengan susah-payah) dengan seluruh dunia.

Perusahaan/institusi yang belum mampu menggaji banyak ahli juga akan mencari karyawan yang fleksibel, yang untuk mampu menyelesaikan berbagai tugas, menurut George Bradt. Menariknya, untuk mencapai posisi yang lebih tinggi dalam suatu organisasi, seseorang akan dituntut untuk memiliki keahlian yang lebih general, selain keahlian manajerial yang baik, jelas Nannette Ripmeester yang dikutip oleh Helen Crane dalam tulisannya untuk The Guardian.

Pro spesialis

Menurut Jamil Azzaini, seorang trainer, penulis, dan social entrepreneur, dalam tulisannya, menemukan renjana sesegera mungkin adalah penting untuk mempersiapkan diri menjadi seorang ahli. Menjadi ahli berbeda dengan sekadar bisa: butuh waktu yang lama untuk berlatih dan terus berlatih. Bahkan, Malcolm Gladwell dalam bukunya, Outliers, pernah mengatakan bahwa aturan 10.000 jam merupakan kunci kesuksesan. Dengan kata lain, untuk menjadi seseorang yang sukses, dibutuhkan latihan selama setidaknya 10.000 jam. Waktu yang sangat lama untuk mengasah satu keahlian saja. Bagaimana mungkin seseorang akan mampu memiliki banyak keahlian dengan menerapkan aturan ini?

Menjadi seorang ahli akan sangat menguntungkan. Pengetahuan dan keterampilan yang mendalam mengenai suatu bidang yang spesifik akan membuat seorang ahli akan dicari oleh banyak orang/perusahaan, apalagi bila keahliannya itu terbilang langka. Bukan hanya itu, para ahli biasanya lebih dihargai, baik secara moral maupun material.

Netral

Alyssa Gregory, pendiri Small Business Bonfire,  mengemukakan bahwa spesialis dan generalis memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Baik spesialis maupun generalis sama-sama dibutuhkan. Menjadi seorang ahli yang hanya memiliki satu keahlian saja tentunya akan membatasi kemampuannya untuk menangani berbagai situasi. Maka, sangat perlu bagi para spesialis untuk membekali dirinya dengan pengetahuan/keahlian lain, yang mungkin saja tidak terlalu linear dengan bidang ilmu/keahliannya. Di sisi lain, menjadi generalis bukannya alasan untuk memiliki pencapaian yang biasa-biasa saja. Para generalis tetap harus memberikan yang terbaik berdasarkan pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki.

Mana yang lebih sesuai dengan diri saya: generalis atau spesialis?

Diah Nur Kusumawardhani, seorang pakar sumber daya manusia, dalam tulisan di blog pribadinya memberikan beberapa pertanyaan sederhana yang dapat memandu kita untuk mengetahui pilihan mana yang lebih sesuai dengan diri kita, antara lain:

1. Apakah Anda membutuhkan banyak keanekaragaman dalam bekerja?

2. Sejauh apa Anda dapat menghadapi ketidakpastian?

3. Seberapa detailkah Anda?

4. Mengikuti prosedur atau mencari sendiri?

Para generalis akan mudah bosan dengan rutinitas itu-itu saja yang mengharuskan mereka menangani bidang yang sama setiap harinya. Bagi mereka, ketidakpastian mungkin bukanlah hal yang mengganggu. Di sisi lain, para spesialis menyukai hal-hal detail dan lebih senang bila bekerja disertai dengan prosedur yang jelas dan rinci.

Kesimpulan

Menjadi generalis maupun spesialis tidak salah, keduanya memiliki keunikan masing-masing. Pilihan mana pun harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Sesempit apa pun pengetahuan kita, sedangkal apa pun keahlian kita, masih ada orang lain yang mampu melengkapi kekurangan kita. Karena itu, sangat penting untuk membina hubungan baik dengan orang lain, tak peduli mereka adalah tenaga ahli maupun atasan yang berwawasan luas.

Semoga bermanfaat.

*****

Pengetahuan manusia, sedalam dan seluas apa pun kelihatannya, tidak ada apa-apanya dibandingkan pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu.

Advertisements

9 thoughts on “Generalis versus Spesialis [Bagian 2-END]

      1. Spesialis yang generalis, maksudnya punya kemampuan di beberapa bidang secara mendalam, Mas?
        Kalau ya, itu namanya versatilis :). Tapi kalau maksudnya spesialis yang melengkapi kemampuannya dengan keahlian yang lain, sepertinya bisa 😀

        Liked by 1 person

  1. Kalau saya, sebenarnya sekarang ada di jalan spesialis, dan berencana menspesialiskan diri. Ada satu pesan dari Prof. Ash, dosen saya. Menurutnya selama kalian masih sanggup belajar. Pelajarilah apapun itu, tdk melulu yg berkaitan dg bidang studi. Karena suatu ketika apa yg sudah dipelajari pasti dimanfaatkan. Kalau sy simpulkan, dosen sy pengen mhsw nya jadi spesialis yg generalis.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s