Catatan dari Talkshow dan Bedah Buku “Karena Selama Hidup Kita Belajar”

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Kemarin (5/6), alhamdulillah, saya bisa hadir dalam acara talkshow dan bedah buku “Karena Selama Hidup Kita Belajar” karya Bang Faldo Maldini. Acara ini diadakan di Kampus Fakultas Kedokteran UNAND Jati, Padang. Sebenarnya saya belum lama mengetahui sang penulis, yah, mungkin baru beberapa bulan lalu dari tumblr beliau. Namun demikian, saya sangat tertarik untuk mengikuti acara ini, karena saya ingin mendengar cerita beliau secara langsung, baik terkait kehidupan yang telah beliau jalani, maupun seputar proses penulisan buku.

Ada sedikit masalah yang sempat membuat saya ragu untuk datang, yaitu perkara registrasi. Untungnya bisa daftar on-site dan meskipun saya terlambat datang, acaranya belum dimulai. Hmm, saya tidak tahu apakah hal ini patut membuat saya senang atau tidak karena saya hadir terlambat :D.

Acara baru dimulai kurang lebih pukul setengah lima, dibuka oleh MC, disusul oleh pembacaan ayat suci Al-qur’an, kemudian kata sambutan. Setelah itu, acara utama dimulai, yaitu sharing langsung oleh Bang Faldo dengan dipandu moderator.

Awalnya saya mengira bahwa Bang Faldo akan memaparkan kisahnya dengan nada serius, tetapi ternyata tidak demikian. Sesi talkshow dan bedah buku yang beliau sampaikan cenderung santai dengan selipan humor, tetapi lugas dan tepat sasaran. Walaupun topiknya bisa melompat-lompat dari kisah hidup sebagai mahasiswa baru lalu ke Inggris, kemudian ke gerakan mahasiswa Indonesia, tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan saya untuk tidak bisa mengikutinya dengan baik. Alhamdulillah, saya sempat mengajukan pertanyaan dan meminta tanda tangan langsung dari penulis Karena Selama Hidup Kita Belajar ini.

Dan berikut adalah ringkasan dari pemaparan beliau selama acara berlangsung.

Seputar Buku Karena Selama Hidup Kita Belajar

Buku ini berawal dari kumpulan tulisan Bang Faldo yang telah rampung pada tahun 2013. Sebagian besar tulisan ini merupakan catatan beliau di tumblr. Bang Faldo mengaku bahwa tulisannya biasa saja, tanpa bunga-bunga kalimat seperti penulis lainnya. Meskipun awalnya telah dikontak oleh salah satu penerbit mayor di Indonesia, Bentang Pustaka, beliau akhirnya menerbitkan buku ini di bawah penerbitan milik salah seorang teman.

Pengalaman selama menjadi mahasiswa

Bang Faldo dulunya ingin kuliah di ITB, tetapi justru diterima di UI, mengikuti nasihat dan pertimbangan dari orangtua beliau. Beliau mengatakan bahwa salah jurusan merupakan dilema yang biasa dialami oleh mahasiswa tahun pertama. Namun, hal yang terpenting bukanlah dimana kita berkuliah, melainkan proses yang dijalani di manapun kita berada. Menurut beliau, justru ada bagusnya menyelesaikan kuliah S1 di Indonesia karena bisa lebih dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat Indonesia.

Setelah menamatkan studi di Jurusan Fisika, FMIPA UI, Bang Faldo melanjutkan studi ke Inggris, tepatnya di Plastic Electronic Materials, Department of Physics, Imperial College, London. Awal-awal di Inggris, beliau sempat merasakan gegar budaya karena kendala bahasa. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar karena Bang Faldo mengambil jurusan eksakta, bukan jurusan sosial yang membutuhkan pemahaman yang lebih dalam bahasa.

Salah satu pengalaman berkesan yang dirasakan oleh beliau adalah ketika pertama kali membuat proyek riset di Inggris. Bang Faldo berhasil menyelesaikan proyek tersebut dengan hasil yang memuaskan. Namun, hal ini justru ditanggapi berbeda oleh dosen beliau di sana karena tidak terjadi proses pembelajaran dua arah seperti yang diharapkan. Maksudnya, ketika seorang mahasiswa mendapat saran atau arahan dari pembimbing, sang mahasiswa tidak harus serta-merta menerima saran tersebut. Mahasiswa berhak untuk mengemukakan pendapatnya, menyatakan keberatan, atau apa pun (selama ditunjang oleh dasar yang kuat). Dengan demikian, akan terjadi proses pembelajaran dua arah yang tidak hanya mengandalkan masukan dari dosen, tetapi juga dari mahasiswa. Hal ini yang masih kurang ditekankan di Indonesia.

Hal yang penting dalam proses pembelajaran menurut beliau adalah redefinisi (menyatakan kembali definisi menurut diri sendiri).

Bang Faldo menyatakan bahwa senjata yang perlu dipersiapkan menjelang lulus kuliah, terutama bagi mereka yang hendak melanjutkan studi adalah memiliki banyak portofolio, baik akademik maupun non akademik. Karena kesibukan beliau dalam organisasi, beliau โ€˜menabungโ€™ portofolio akademik selama masa awal kuliah. Jadi, meskipun sulit untuk bisa menyeimbangkan pencapaian akademik dengan kesibukan organisasi, hal itu bisa disiasati (dan bukan menjadi alasan bagi papra aktivis untuk tidak mendalami bidang keilmuannya dengan baik). Namun, hal yang seringkali terlupakan oleh para mahasiswa yang akan melanjutkan studi adalah kemampuan dalam berbahasa Inggris. Jadi, selain portofolio pribadi, kemampuan berbahasa Inggris juga penting untuk dipersiapkan dengan baik.

Tanya jawab

  1. Bagaimana cara menyikapi (?) agar bisa bermanfaat bagi orang lain?

Kewajiban pada orangtua adalah memberikan toga, bukan TOA, sehingga belajar harus tetap dianggap sebagai kewajiban utama. Namun, karena kita kuliah dibayari rakyat, jangan menjadi orang yang tidak peduli dengan orang lain. (atau jangan tidak peduli dengan masalah yang dihadapi oleh masyarakat).

  1. Mimpi yang harus dipertanggungjawabkan itu seperti apa?

Setiap ucapan dan tulisan harus bisa dipertanggungjawabkan. Jangan menetapkan standar ganda (menetapkan suatu standar untuk orang lain, tetapi tidak menetapkannya untuk diri sendiri).

Ketika kita masuk organisasi, jangan menjadi orang yang biasa-biasa saja, yang tidak punya tujuan yang jelas (dan hanya bisa membanggakan riwayat organisasi nantinya setelah lulus), sementara kita punya potensi untuk menggantikan mereka yang duduk di atas sana.

  1. Seperti apa gerakan mahasiswa modern* itu?

(modern atau post-modern(?))

Saat ini, (sayangnya), BEM sudah tidak menjadi tumpuan harapan rakyat Indonesia.

Solusinya, organisasi mahasiswa harus bisa menempatkan posisi, bisa menemukan model pergerakannya. Organisasi mahasiswa harus bisa mengakomodasi keinginan setiap orang. Jangan memaksa mereka untuk melakukan hal yang tidak diinginkan. Namun, kebebasan para anggota untuk melakukan hal yang mereka sukai jangan berhenti di tahap kesukaan saja, tetapi harus ada hasilnya. Misalnya, mereka yang senang bermain bola, nantinya meraih gelar juara di tingkat nasional, dsb.

  1. Bang Faldo menyatakan bahwa jangan percaya pada hal-hal yang baik saja dari kesuksesan seseorang. Sepahit apa perjalanan Bang Faldo hingga bisa seperti sekarang?

Sempat kalah dua kali sebelum meraih juara, sempat mendapatkan nilai ujian yang rendah, harus berlatih public speaking dari awal, harus belajar konsep ilmu sosial dan politik ke FISIP, mendapatkan skor TOEFL pertama yang tidak terlalu tinggi, hingga kegagalan dalam membuat perusahaan.

Ketika kita ditempa sampai titik batas kemampuan (hingga tidak bisa berpikir lagi), perbanyaklah berdoa.

  1. Apakah Faldo Maldini percaya dengan adanya zona nyaman? Kalau ya, bagaimana cara mengatasinya agar tidak terjebak di dalamnya?

Zona nyaman itu memang ada, yaitu ketika kita melakukan sesuatu dan mampu memperoleh hasil terbaik tanpa bersusah payah. Ibarat bermain game, lalu bisa menang tanpa kesulitan berarti.

Solusiny: tinggalkan zona nyaman dan pindah untuk menaklukkan zona-zona lainnya. Berada terus-menerus di dalam zona nyaman adalah hal yang berbahaya, karena akan membuat kita menjadi pribadi yang tidak berkembang.

  1. Menurut narasumber, rumah itu seperti apa?

Rumah tidaklah sebatas bangunan secara fisik, melainkan tempat untuk pulang, tempat untuk beristirahat, tempat melepaskan segala yang kita punya (menjadi diri sendiri), tempat mengisi energi. Orangtua bisa menjadi rumah, teman-teman bisa menjadi rumah, organisasi pun bisa menjadi rumah.

Demikian pentingnya arti sebuah rumah, sehingga jangan sampai kita salah memilih rumah.

  1. Setiap pattern yang telah kita jalani pernah dilalui oleh orang lain. Lalu apa bedanya antara kita dan orang lain?

Tidaklah salah bila kita hanya melalui jalan yang telah dilalui orang lain (memilih jalan hidup yang biasa-biasa saja). Namun, dengan membuat peta hidup, kita bisa membandingkan hasil yang kita peroleh dengan yang diperoleh orang lain.

Ketika kita membuat peta hidup, kita sering miss. Jujur pada diri sendiri adalah kunci untuk membuka jawaban bagi setiap masalah. (Misalnya, bila kita tidak bisa berbahasa Inggris, maka akuilah hal itu sehingga kita bisa merencanakan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk memperbaiki kekurangan itu).

Sekian cerita yang bisa saya bagikan kepada pembaca sekalian. Semoga bermanfaat dan bisa diambil pelajarannya.

Karena selama hidup, kita belajar ๐Ÿ™‚.

Advertisements

5 thoughts on “Catatan dari Talkshow dan Bedah Buku “Karena Selama Hidup Kita Belajar”

  1. Wah, sehari ini udah baca dua posting yang menyarankan saya buat mengakui kekurangan lalu berusaha untuk memerbaiki. Denger cerita kuliah-kuliah dari orang-orang yang sudah sukses bikin saya gemeter (pengen cepet lulus ๐Ÿ˜€ ).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s