Karena Selama Hidup, Kita… Belajar

DSCF3452 Judul                    : Karena Selama Hidup, Kita… Belajar

Pengarang           : Faldo Maldini

Penerbit               : Gram Studio

Jumlah halaman    : xiv + 231 halaman

*****

Setiap detik, menit, hari, hingga dimensi waktu tertinggi, kita hanya bisa belajar untuk menjadi lebih baik

Ya, beruntunglah mereka yang lebih baik dari dirinya yang dahulu.

-Faldo Maldini-

Kutipan ini mengantarkan siapa pun yang membaca buku ini ke dalam belantara pemikiran sang penulis (semoga ungkapan ini tidak berlebihan). Saya merasa bahwa buku ini ditulis dengan semangat seorang pembelajar sehingga tidak sedikitpun melenceng dari kata-kata ‘belajar’ itu sendiri. Mulai dari judul, prolog, hingga epilog, saya menemukan banyaknya bentukan kata yang berasal dari kata ‘ajar’ tersebut, antara lain belajar, pembelajar, dan pembelajaran.

Sekilas tentang buku ini

Terdiri dari 20 bab, di luar prolog dan epilog, buku ini menceritakan penggalan kisah hidup Faldo Maldini, mulai dari pengalaman mengikuti seleksi masuk PTN hingga beliau lulus dari pendidikan S1 di Departemen Fisika, FMIPA Universitas Indonesia. Tidak melulu membahas kehidupan akademik mahasiswa (belajar di kelas, praktikum, riset, dan skripsi), melainkan juga kehidupan berorganisasi, mulai dari tingkat departemen, fakultas, hingga universitas.

Ulasan singkat

Disampaikan dengan bahasa yang lugas dan ringan, menurut saya, buku ini tidak terasa menggurui. Paragraf demi paragrafnya sistematis, sehingga mudah dipahami. Sejauh pengamatan saya, tidak ada kesalahan ketik yang ditemukan dalam buku ini. Dan yang terpenting, tulisan-tulisan Faldo Maldini dalam buku ini punya ‘nyawa’, tidak sekadar kata-kata kosong yang tercetak di atas kertas. Terkadang kalem, terkadang menggebu-gebu, sesuai dengan gagasan yang diusung. Sekali lagi, semoga ungkapan ini tidak berlebihan.

Hal-hal yang bisa dipelajari dari buku ini

Seperti judulnya, saya pun belajar banyak dari buku ini. Meskipun buku ini bercerita tentang mahasiswa, dan sudah beberapa tahun berlalu sejak saya lulus dari pendidikan strata 1, tetapi ada banyak hal yang masih relevan dan bisa diterapkan dalam kehidupan saya sekarang, antara lain:

Mahasiswa dan tanggung jawab yang diembannya

Dari buku ini saya belajar bahwa tanggung jawab mahasiswa sangat berat. Mahasiswa tidak hanya harus belajar dengan baik agar lulus dengan nilai baik, kemudian mendapat pekerjaan idaman dan hidup berkecukupan, tetapi juga harus mengabdi pada rakyat. Sederhana saja alasannya: sebagai tanda terima kasih kepada rakyat karena mahasiswa kuliah dengan subsidi dari rakyat, baik dari pajak maupun remittance dari TKI yang bekerja di luar negeri (hal. 9-10).

Gerakan mahasiswa

Penulis tidak hanya beretorika mengenai kewajiban mahasiswa untuk membela rakyat, beliau membuktikannya melalui aksi nyata yang beliau lakukan selama terlibat dalam gerakan mahasiswa. Misalnya pada isu kenaikan harga BBM, masalah penggusuran pedagang stasiun oleh PT. KAI, dan beberapa masalah lainnya. Aksi di sini bukan sebatas demonstrasi (yang seringkali ditanggapi sinis oleh berbagai pihak), melainkan juga melalui dialog dan petisi. Sehingga rasanya salah kaprah bila kita menganggap bahwa satu-satunya cara untuk mengajukan aspirasi hanyalah dengan cara demo :|.

Mahasiswa dan akademik

Tidak hanya bercerita soal gerakan mahasiswa, penulis juga berbagi pengalamannya dalam kuliah dan riset, hingga berkesempatan untuk mengikuti International Student Energy Summit 2011 di Vancouver, Kanada. Ya, mahasiswa bukanlah mahasiswa bila ia hanya sibuk dengan organisasi lalu melupakan kewajibannya untuk mendalami bidang ilmu yang telah dipilihnya. Baik kewajiban terkait akademik maupun organisasi harus dijalani dengan seimbang, meskipun pada akhirnya akan ada salah satu yang harus dikorbankan. Lama studi, misalnya. Namun, selama pengorbanan itu terbayar dengan pengalaman dan kepuasan batin yang diperoleh, hal itu tidaklah sia-sia.

Orangtua

Setinggi-tingginya ilmu seseorang, tidaklah pantas bila ia menganggap diri lebih tinggi, apalagi dibandingkan orangtua sendiri. Orangtualah yang telah bersusah payah membesarkan dan mendidik kita, dari yang tidak tahu dan tidak mampu berbuat apa-apa hingga bisa mandiri. Seluruh keputusan penting yang hendak diambil pun seyogianya dikonsultasikan dengan orangtua. Bukan pertanda kita lemah membuat keputusan, melainkan kita tidak akan bisa apa-apa bila tidak ada ridha dari orangtua. Sementara,  ridha Allah terletak pada ridha orangtua, murka Allah pun terletak pada murka orangtua.

Lingkungan dan teman-teman yang baik

Hidup dan berkarya selama menjadi mahasiswa tidaklah bisa dijalani seorang diri. Kita butuh teman-teman yang baik untuk saling menguatkan. Ketika kita mentok ide, mentok dana, mentok tenaga, teman-teman yang baik akan hadir dan sedia untuk membantu dengan ikhlas. Ketika kita melenceng keluar jalur, maka teman-teman yang baik akan siap untuk mengingatkan dan menarik kita ke jalan yang benar.

Passion

Terlepas dari kontroversi mengenai kata ‘ajaib’ yang satu ini, sang penulis meyakini bahwa passion sangat penting. Passion-lah yang akan membedakan manusia dengan robot. Passion akan membuat kita memiliki keterkaitan emosi yang kuat dengan aktivitas yang dilakukan. Ya, sangat penting untuk memiliki passion hingga kita harus mencarinya bila belum bertemu dengannya (hal. 139).

Dan..tentunya masih banyak lagi hal yang bisa dipelajari, yang tidak bisa saya tuliskan semuanya di sini.

Akhir kata, buku ini patut untuk dibaca oleh mahasiswa, maupun yang telah menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Bagi mahasiswa, mungkin buku ini adalah inspirasi. Bagi mereka yang telah lulus, membaca buku ini mungkin akan membangkitkan kenangan masa lalu. Yang jelas, siapa pun pembacanya, insya Allah akan tergugah untuk belajar banyak dari buku ini.

Selamat membaca!

*****

Ya, mahasiswa hari inilah yang harus menyiapkan dirinya dengan terus belajar untuk membawa bangsa ini menjadi besar. Dari hari ini hingga kemudian hari.

-Faldo Maldini-

Advertisements

9 thoughts on “Karena Selama Hidup, Kita… Belajar

  1. Saya kayaknya tidak terlalu memanfaatkan masa-masa kuliah saya dengan baik seperti yang ditulis dalam buku ini :hehe. Tapi membaca pengalaman orang kan bisa berarti turut menikmati juga ya, meski rasanya tetap tidak akan sama, pelajarannya bisa kita ambil, sembari menyiapkan diri untuk pelajaran yang disediakan hari esok. Masa lalu memang tak akan kembali, tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar kan :hehe.

    Like

  2. Setuju dengan penulisnya.
    Berhenti belajar adalah wujud kesombongan, merasa diri sudah berilmu. Bahaya kalo sifat sombong seperti itu sampai kebawa kala menemui ajal, berat tanggungannya walau sebesar zarah.

    Mari menjadi manusia pembelajar seumur hidup.

    Liked by 1 person

    1. Semoga kita terhindar dari sifat yang seperti itu, ya, Pak 🙂
      Mohon maaf ya, Pak, kalau saya ada salah. Selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadhan 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s