‘Urang Darek’ Goes to ‘Pasisia’*

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Minggu lalu (2/8), saya bersama kedua orangtua pergi ke Painan, ibukota kabupaten Pesisir Selatan. Tujuan utamanya, sih, untuk mengunjungi adik saya, yang sedang co-ass di RSUD Dr. M. Zein Painan. Sekalian jalan-jalan juga. Berbeda dengan perjalanan ke Padang yang biasanya menghabiskan waktu dua hingga tiga jam, kali ini perjalanannya diprediksi menghabiskan waktu lima hingga enam jam. Jadi, harus bisa memanfaatkan waktu agar pulangnya tidak kemalaman. Karena jarak yang jauh, yang menyetir bukan ayah saya, melainkan Om Ujang yang sudah lama dipercaya oleh orangtua saya untuk mengemudi ke luar kota.

Kami berangkat sekitar pukul 06.30 WIB. Jalanan cukup lancar, sehingga mobil bisa melaju dengan mulusnya. Setibanya di Padang, kami sarapan di bofet Katupek Pitalah di Jl. Adinegoro. Selesai sarapan, mobil terus bergerak ke arah selatan Padang, melewati daerah Teluk Bayur, Bungus, dan Teluk Kabung. Ketiga daerah itu bersisian dengan laut, sehingga kami bisa melihat pesisir barat Sumatera Barat dengan begitu jelas. Saya yang jarang-jarang melihat pantai jadi kumat noraknya, haha :D.

DSCF3507 DSCF3509 DSCF3511 DSCF3515 DSCF3517

Karena terlalu antusias mengambil foto, saat melewati daerah Teluk Kabung, saya jadi capek sendiri dan mulai mengantuk. Saat memasuki batas kabupaten Pesisir Selatan, barulah mata ini ‘melek’. Niatnya mau memotret gapura batas kabupaten, eh, telat memencet tombol shutter. Ya sudahlah, ya.

DSCF3525
Bisa lihat gapuranya?

Setelah itu, rasa kantuk saya makin menjadi-jadi. Saya melihat pemandangan di luar, mengamati setiap plang yang bertuliskan nama daerah, lalu tertidur. Lalu terbangun lagi, menyadari bahwa kami masih berada di kecamatan yang sama, lalu tidur, dan begitu seterusnya. Baru saat memasuki Kecamatan IV Jurai, saya mulai sadar penuh karena itu berarti kami semakin dekat dengan tempat yang dituju. Secara ringkas, rute yang dilalui adalah Kec. Koto XI Tarusan, Kec. Bayang, kemudian Kec. IV Jurai. Di Kecamatan IV. Jurai ini, jalannya lebih luas dan dibagi menjadi dua jalur berpembatas. Lebih banyak bangunan di sana, tidak seperti di daerah-daerah sebelumnya yang lebih banyak rumah dan pepohonan.

Kami akhirnya memasuki Painan yang benar-benar berbeda dengan daerah lain. Lebih maju, khas ibukota kabupaten. Sesuai rencana, adik saya dijemput terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk makan atau mengunjungi tempat wisata.

Karena adik saya juga tidak begitu mengenal daerah ini, pun rumah makan yang tidak jauh dari rumah sakit, kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai Carocok terlebih dahulu. Siapa tahu di sana ada tempat makan :).

Sesampainya di kawasan Pantai Carocok (yang sangat ramai oleh wisatawan), kami masih bingung hendak makan di mana. Akhirnya, adik saya menelepon salah seorang temannya. Katanya, pilihan tempat makan di kawasan wisata ini tidak banyak. Ada rumah makan Dena yang bisa dijadikan pilihan. Masih setengah bingung, kami berjalan ke arah rumah makan yang tampak sederhana. Saat melihat penunjuk nama di rumah makan itu, saya berpikir ‘ Oh, ini Rumah Makan Dena.’ Namun, saya masih kurang yakin dengan pengalaman makan di sana nantinya.

Seperti layaknya rumah makan di daerah pesisir, lauk yang disuguhkan adalah menu berbahan dasar ikan. Ada ikan bakar, gulai ikan. Selain itu, juga ada dendeng balado, ayam goreng bumbu, gulai cubadak (nangka muda), sayur kangkung, dan tahu-tempe-terung lado mudo (cabai hijau). Saya yang menganggp bahwa tidak sah kalau ke daerah pesisir bila tak makan ikan, langsung memilih gulai lauak karang (gulai ikan karang).

Setelah kenyang makan, kami berjalan menuju pantai Carocok untuk berfoto-foto. Begitu menyadari bahwa untuk bisa masuk, setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 5.000,00, ayah saya menyarankan untuk tidak usah masuk agar tidak perlu membayar. Lagipula kami tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Ya sudah, tak ada rotan, akar pun jadi. Tak bisa masuk, berdiri di luar pun oke. Kami pun memaksimalkan kesempatan yang sangat terbatas untuk bisa berfoto di area yang terbatas pula.

DSCF3539 DSCF3549 DSCF3552 DSCF3553

Sekilas info, Pantai Carocok merupakan salah satu tempat wisata terkenal di daerah ini. Di sini ada banyak wahana permainan, seperti banana boat, flying fox, dan sebagainya. Dari pantai ini, kita bisa menaiki jembatan ke Pulau Batu Kereta. Selain itu, wisatawan juga bisa menumpang boat untuk menuju Pulau Cingkuak. Di pulau itu, ada benteng peninggalan Portugis, yang agaknya menjadi bukti bahwa pulau ini merupakan pintu masuk bangsa Portugis di pesisir barat Sumatera. Sayang, kami tidak punya cukup waktu untuk menikmati pemandangan kedua pulau itu.

Puas berfoto-foto (tidak cukup puas sebenarnya, karena ayah saya yang terus mengingatkan untuk segera kembali), kami pun kembali ke RSUD Dr. M. Zein untuk mengantarkan adik saydan mengambil barang yang akan dititipkan untuk ditinggalkan ke rumah kosnya di Padang. Tanpa membuang waktu, kami kembali ke Padang untuk shalat dan menaruh barang milik adik saya, sebelum kembali ke Bukittinggi melewati jalur SiMaKa (Sicincin-Malalak-Balingka). Jalur ini merupakan alternatif untuk jalur Silaing yang biasanya padat di penghujung pekan. Alhamdulillah, kami bisa tiba di rumah pukul 17.30 WIB.

Selamat tinggal Painan! Semoga ada kesempatan untuk singgah ke sana lagi.

*) Orang darat pergi ke Pesisir.

Advertisements

4 thoughts on “‘Urang Darek’ Goes to ‘Pasisia’*

  1. Wah bagus2 bgt pemandangannya, kalo moto pantai emg gak ada bosannya ya, Mi. Btw, telat bgt nih, tapi mohon maaf lahir batin ya, Ami. 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s