RBB – Juni 2015

DSCF3612

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Memasuki pertengahan tahun ini, buku yang saya tuntaskan baru 22 buku. Masih tertinggal jauh dari target. Biarpun begitu, harus tetap semangat.

Yah, seharusnya.

Karena bulan Juni pun, saya hanya sanggup membaca dua buku. Yang pertama adalah Karena Selama Hidup Kita BelajarFaldo Maldini, dan yang kedua adalah…

 

2. DR. Mohammad Djamil: Berjuang untuk Kemerdekaan dan Kemanusiaan – Gusti Asnan, dkk.

Cetakan: Pertama, 2006

Jumlah halaman: xvi + 205

Sinopsis dan ulasan singkat:

Bagi masyarakat Sumatera Barat, khususnya yang berkecimpung di dunia kesehatan, nama Dr. Mohammad Djamil tentu tidak asing lagi. Nama beliau diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat yang terletak di Padang dan menjadi rujukan di Sumatera bagian tengah (kalau saya tidak salah). Namun, apakah nama besar beliau hanya sebatas itu?

Ternyata tidak. Beliau adalah seorang putra pribumi yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi. Memasuki ELS (Europeesche Lagere School) yang bergengsi, kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA). Beliau menyelesaikan belajar di STOVIA dalam waktu 9 tahun, lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Tidak cukup sampai di sana, Mohammad Djamil melanjutkan pendidikannya ke Belanda dan Amerika, hingga meraih gelar Doktor Internis dan Doctor of Public Health.

Sebagai seorang dokter, beliau tidak hanya berkiprah di bidang kesehatan, melainkan juga aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) pada zaman perjuangan kemerdekaan. Pada 1946, beliau diangkat sebagai Residen Sumatera Barat. Setelah tugas beliau sebagai residen selesai, beliau dipercaya menjadi Gubernur Muda Sumatera Tengah hingga awal 1947. Lalu, oleh Gubernur Sumatera, beliau diangkat menjadi Ketua Panitia Persiapan Sekolah-Sekolah Tinggi Propinsi Sumatera Tengah hingga beliau pensiun pada akhir 1952. Pada 1957, rumah sakit Sitawa Sidingin, yang berdiri atas inisiatif beliau, berdiri di Bukittinggi. Di sana, beliau aktif melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di lingkungan keluarga, beliau dikenal sebagai seorang mamak yang adil, arif, dan bijaksana. Karena sifat-sifat itu, beliau diangkat oleh kaumnya sebagai penghulu dengan gelar Datuk Rangkayo Tuo. Selain membimbing para kemenakannya dengan nasihat, beliau juga memberikan bantuan dana untuk melanjutkan pendidikan para kemenakannya.

Sungguh suatu pencapaian yang seimbang: di bidang profesi, pemerintahan, dan lingkungan keluarga serta kaum. Mungkin tak banyak yang bisa seperti beliau, bahkan di zaman sekarang yang berlimpah fasilitas. Sudah sepatutnya kisah hidup beliau menjadi inspirasi dan teladan bagi kita :).

Advertisements

4 thoughts on “RBB – Juni 2015

  1. Pernah baca juga mi tentang m djamil ini, kalau tidak salah dulu beliau pernah meneliti tentang penyakit tuberculosis, lalu pada zamannya booming banget. Walaupun baca di artikel. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s