In Search of Personality

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ada yang pernah berpikir atau merasa bahwa mengenali kepribadian adalah perkara penting? Sepenting mengenali makanan yang membuat alergi kumat atau mata kuliah yang perlu trik khusus untuk bisa lulus?

Saya pernah, dan sampai saat ini, masih berpikir seperti itu.

Bagi saya, mengenali kepribadian itu seperti bagian dari mengenali diri sendiri. Sekadar tahu makanan dan minuman-warna-aktor-aktris-film-lagu-penyanyi-grup band-boyband-girlband-buku favorit rasanya masih belum cukup untuk mendeskripsikan diri. Hal-hal tersebut hanyalah preferensi, bisa dipelajari dan ditiru dari orang lain, bahkan bisa dibuat-buat untuk pencitraan. Namun, kepribadian, bagi saya, jauh lebih dalam dibandingkan itu. Mengenali kepribadian memungkinkan kita untuk tahu potensi dan kekurangan, serta hal-hal yang menjadi peluang dan ancaman. Mengenali kepribadian juga memungkinkan kita untuk tahu apa hal-hal yang membuat kita bahagia dan apa pula yang membuat kita tertekan untuk menghadapinya.

***

Mengenali kepribadian, belakangan ini telah menjadi sebuah tren tersendiri, dimana orang-orang dengan kepribadian sama akan cenderung merasa percaya diri dengan keunikan tipe kepribadiannya. Tidak hanya itu, orang-orang dengan kepribadian tertentu akan cenderung merasa cocok dengan sesamanya, sehingga mereka akan merasa lebih dekat, sharing a stronger bond. Pada tingkat yang lebih tinggi, mereka yang ‘agak terobsesi’ dengan teori tipologi kepribadian tertentu akan melakukan riset sesuai kemampuan – alakadarnya atau habis-habisan- dan mereka mulai memasang semacam radar pendeteksi kepribadian untuk mengklasifikasikan orang-orang, bahkan tokoh fiksi yang mereka kenal.

Dan saya, adalah salah satu di antaranya.

Berbekal kesenangan dalam ‘melongok’ ke dalam diri sendiri, saya senang mencari tahu lebih dan lebih tentang kepribadian saya. Sejauh ini, internet memainkan peran utama, meskipun klasifikasi kepribadian pertama yang saya kenal tidak diperoleh dari internet, melainkan dari salah seorang senior SMA. Klasifikasi kepribadian tersebut dikenal dengan nama four temperaments: koleris, melankolis, sanguinis, plegmatis. Memasuki dunia perkuliahan, salah seorang senior ‘membaca’ saya sebagai seorang melankolis-plegmatis. Semacam pendiam yang tidak suka cari rusuh. Saya pun memasuki masa-masa terobsesi dengan pengetahuan seputar four temperament test; bahwa koleris adalah tipikal pemimpin dan sanguinis tipikal pencari kesenangan, dan sebagainya. Sampai pada suatu ketika, saya menemukan bahwa four temperaments adalah pseudosains, dalam arti lain tidak bisa dijadikan tolok ukur karena keilmiahannya yang lemah. Maka semakin berkuranglah obsesi saya akan four temperaments.

Lalu, karena ada cukup banyak buku psikologi di rumah, saya juga tertarik dengan tipe kepribadian berdasarkan Eneagram.Menurut Eneagram, ada sembilan tipe kepribadian yang terhubung dengan garis-garis, sehingga bisa membentuk semacam bintang. Kala itu, saya tidak terlalu mengerti apa-apa selain hasil tes saya yang membuktikan bahwa saya cocok dengan karakteristik Peacemaker (tipe 9). Karena tipe ini tidak terlalu nge-hype, maka pencarian saya berhenti sampai di sana.

Kemudian, tren bergeser menjadi kepribadian berdasarkan golongan darah. Tipologi yang menarik karena sepertinya lebih ilmiah meskipun terlalu menggeneralisasi. Saya bahkan sampai membaca komiknya (yang kalau tidak salah dibuat oleh orang Korea) -versi gratisan, tentu saja-. Menyenangkan untuk lucu-lucuan dan meledek diri sendiri. Mengapa saya katakan demikian? Karena golongan darah saya dikaitkan dengan kelompok pelanggar aturan, paling kepo, pemalas, suka ngaret, senang dengan hal-hal baru, mudah terdistraksi, dan cenderung meledak-ledak dibanding memendam perasaan. Sebagian besar ada benarnya, hingga saya hampir mempercayai teori kepribadian berdasarkan golongan darah itu. Bukan karena saya percaya bahwa tipe aglutinin dan aglutinogen darah berperan sejauh itu dalam kepribadian -tidak, kepribadian tidak semata ditentukan oleh aspek biologis – melainkan karena saya mengira bahwa teori ini didasarkan oleh semacam survei untuk menilai seberapa banyak dari pemilik golongan darah tertentu yang memiliki karakteristik tertentu.

Kemudian, tren tipologi kepribadian bergeser lagi menjadi MBTI (Myer Briggs Type Indicator/Inventory). Tipologi ini membagi manusia berdasarkan empat karakteristik: Introvert/Ekstrovert, Sensing/Intuitive, Thinking/Feeling, dan Judging/Perceiving. Keempat karakteristik ini membentuk 16 tipe yang diwakili oleh empat huruf, sesuai dengan inisial masing-masingnya. Sekadar info, saya mengikuti tesnya cukup lama sebelum tipe ini populer di kalangan pengguna internet. Hasilnya menyatakan bahwa saya termasuk dalam salah satu tipe -yang sekarang saya pahami sebagai- idealis. Namun, beberapa tahun berselang dan saya mencoba tes itu untuk yang kedua kalinya, saya memperoleh hasil yang jauh berbeda – bukan dari jenis hurufnya (hanya beda satu huruf dari yang pertama) – yaitu sebagai salah satu tipe rasional. Hmm, boleh jadi saya tidak paham dengan pertanyaan yang diberikan, tetapi, setelah mengikuti tes di salah satu situs, untuk menilai fungsi kognitif, saya baru memahami bahwa saya memiliki fungsi bayangan yang cukup kuat, sehingga saya dikelompokkan dalam tipe yang tidak sesuai. Sejauh ini, MBTI adalah tipe kepribadian yang masih menarik perhatian saya, terlepas dari keakuratannya. Salah satu alasannya adalah MBTI didasarkan pada fungsi kognitif seseorang, sehingga memungkinkan untuk mengenali potensi diri lebih dalam lagi.

Ngomong-ngomong soal Eneagram, saya ikut tes untuk yang kedua kalinya dan mendapatkan hasil yang jauh berbeda, tetapi lebih sesuai dengan diri saya. Tetap saja, Eneagram masih belum begitu menarik dibandingkan MBTI. Ini menurut pendapat saya, lho.

Dengan ketertarikan saya terhadap MBTI, saya beberapa kali menebak-nebak tipe orang-orang yang saya kenal. Meskipun banyak melesetnya, tetapi dari empat huruf, setidaknya ada dua atau tiga yang tepat. Namun, saya belum seobsesif itu terhadap MBTI sampai menggolongkan karakter fiksi ke dalam tipe-tipe tertentu. Namun, selalu menyenangkan untuk tahu bahwa karakter yang saya sukai memiliki tipe yang sama dengan saya, walaupun seringkali diperebutkan oleh tipe lainnya. Kalau sudah begitu, rasanya saya jadi kesal juga,tetapi itu beberapa waktu yang lalu. Sekarang, saya memahami perbedaan keenambelas tipe itu dengan lebih santai. Semua tipe ada kekurangan, ada pula kelebihannya. Kekurangan bukan untuk dicaci atau menjadi penyebab rendah diri, kelebihan bukan untuk membuat iri atau menjadi alasan untuk tinggi hati.

***

Mengenali kepribadian, bagi saya, tak ubahnya suatu petualangan yang tidak tahu di mana ujungnya. Terlepas dari benar-tidaknya tipe-tipe kepribadian yang telah ada, mengenali kepribadian secara cepat dapat dilakukan dengan mengenali di tipe manakah kita berada. Namun, sebenarnya, mengenali kepribadian adalah berhenti sejenak dan mendengarkan diri dengan penuh perhatian.

Yah, ini adalah pendapat saya saja.

Advertisements

5 thoughts on “In Search of Personality

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s