Generation War (Unsere Mütter, unsere Väter)

Sutradara: Stefan Kolditz

Produser: Philipp Kadelbach

Pemain: Volker Bruch, Tom Schilling, Katharina Schüttler, Miriam Stein, Ludwig Trepte

Negara asal: Jerman

Jumlah episode: 3

Tanggal rilis: 17 – 20 Maret 2013

Durasi: 90 menit per episode

Sinopsis: Generation War mengisahkan kehidupan lima orang sahabat berkebangsaan Jerman yang menghadapi kenyataan tak terelakkan, Perang Dunia II. Mereka adalah Wilhelm Winter, Friedhelm Winter, Charlotte Weiss, Viktor Goldstein, dan Greta Müller. Sehari sebelum keberangkatan Winter bersaudara dan Charlotte ke medan perang, mereka berkumpul di sebuah bar dan berjanji akan bertemu lagi pada hari Natal saat perang usai. Saat mereka bertemu, semuanya tak lagi sama, termasuk apa yang sebelumnya mereka percayai tentang perang itu sendiri.

Ulasan

Plot

[Sayangnya, saya tidak terlalu ahli dalam membahas plot.]

Alur cerita dalam Generation War umumnya bergerak linear, kecuali dalam bagian pertama yang terdiri dari campuran alur mundur dan alur maju. Sepengamatan saya, tidak ada plothole dalam ministerial ini. Semua yang menjadi misteri terjawab di akhir cerita.

Dibagi menjadi tiga episode: Ein Andere Zeit (A Different Time), Ein Anderer Kreig (A Different War), dan Ein Anderes Land (A Different Country), miniseri ini menghadirkan cerita yang semakin intens seiring berjalannya waktu, juga dengan fokus yang sesuai dengan judul tiap episodenya. Saya tidak bisa menghadirkan ringkasan untuk setiap episodenya, tetapi silakan cek laman Wikipedia ini bila berminat.

Karakter

[Bagian favorit saya dalam membuat ulasan film]

Wilhelm Winter, narator dalam film ini, merupakan seseorang yang memiliki karir yang baik sebagai seorang tentara. Berangkat ke medan perang sebagai seorang letnan (Leutnant), dapat disimpulkan bahwa Wilhelm merupakan seorang tentara yang penuh determinasi. Sebagai anak lelaki tertua di keluarga Winter, ia adalah harapan orangtuanya, khususnya ayahnya. Wilhelm menganggap bahwa setiap pemuda yang bergabung sebagai tentara dalam perang harus berani dan tidak kenal iba kepada musuh. Perang, menurutnya, adalah kesempatan untuk mengasah keberanian bagi seorang lelaki. Ia juga sangat optimis dengan kemenangan Jerman sehingga perang dapat segera berakhir dalam waktu yang singkat.

Friedhelm Winter, berbeda dengan kakaknya, ia adalah seseorang yang idealis dan cenderung skeptis, meski juga ikut bergabung dalam perang. Ia lebih senang membaca buku dan bersentuhan dengan dunia sastra dibandingkan terlibat dalam pembicaraan yang dangkal. Hal ini membuat ayah dan kakaknya meragukan kapasitas Friedhelm sebagai seorang laki-laki yang gagah berani. Sejak sebelum keberangkatannya, Friedhelm memiliki pandangan yang berbeda soal perang. Baginya, perang hanya akan menyebabkan kemungkinan terburuk. Dalam pertempuran pun, ia mengambil posisi aman, yang tidak mengharuskan dirinya untuk membunuh, sehingga ia dianggap ‘cemen’  dan tidak bisa diandalkan oleh rekan-rekannya.

Charlotte Weiss, yang lulus seleksi sebagai perawat di medan perang, memiliki pandangan yang sangat positif tentang kewajibannya. Perawat mewakili kaum wanita German, kurang lebih demikian yang sempat ia utarakan pada awal masa tugasnya. Mengenal Wilhelm sejak kecil, Charlotte diam-diam menyukai lelaki itu lebih dari seorang sahabat. Namun, Charlotte tidak berani mengutarakan perasaannya hingga mereka harus berangkat ke Rusia untuk bertugas. Meskipun demikian, Charlotte sudah cukup bahagia karena bertugas di divisi yang sama dengan Wilhelm dan Friedhelm.

Viktor Goldstein, merupakan putra dari seorang veteran Perang Dunia I keturunan Yahudi. Ayahnya berprofesi sebagai penjahit dan Viktor, dengan darah seninya, mengikuti jejak ayahnya. Situasi kala itu membuat orang Yahudi di Jerman menghadapi posisi sulit, sehingga Viktor sampai pada suatu titik keraguan akan identitasnya sebagai warga Jerman. Namun, ayahnya, justru sangat mencintai dan bangga akan negara yang mereka tinggali, membuat Viktor sering terlibat dalam adu pendapat dengan sang ayah. Mematuhi aturan dan batasan-batasan untuk bangsa Yahudi merupakan sesuatu yang dibencinya. Ia menjalin hubungan dengan Greta dan sangat mencintainya, meskipun tahu benar akan konsekuensinya.

Greta Müller, yang bercita-cita menjadi penyanyi terkenal dan ingin menjadi Melanie Dietrich kedua, mengisi kehidupannya dengan bersenang-senang, tidak seperti ketiga sahabatnya yang memilih untuk mengabdi di medan perang. Parasnya cantik dan ia sangat percaya diri dengan hal itu, juga kemampuannya. Greta menjalin hubungan asmara dengan Viktor, yang merupakan seorang Yahudi. Meskipun ras Arya dilarang untuk berhubungan dekat dengan Yahudi, Greta tidak peduli. Ia tetap mencintai Viktor, bahkan membantu kekasihnya agar selamat dari kekejaman pemerintah Jerman kala itu.

Sepanjang berjalannya cerita, karakter-karakter ini tidak stagnan, justru menampakkan perkembangan, entah itu bergerak ke arah positif atau negatif. Peperangan dan hal-hal yang dibawanya membuat para tokoh mau tidak mau menyesuaikan diri dengan tantangan dan ancaman yang menghadang mereka. Seiring waktu, penonton akan  melihat perubahan yang sangat drastis dari karakter-karakter mereka.

Sinematografi

[Saya bisa apa untuk berkomentar soal sinematografi].

Paduan sorot jarak jauh dan jarak dekat dalam miniseri ini sangat pas. Adegan-adegan tertentu diambil dalam gerakan lambat untuk dramatisasi, tetapi saya tidak merasakan sesuatu yang berlebihan. Pencahayaan cukup realistis untuk setiap latar yang digunakan.

Adegan aksi

Berkisah tentang kehidupan semasa Perang Dunia II, Generation War tidak melulu bercerita tentang melankolia para tokohnya atau pun kejadian sehari-hari. Banyak adegan aksi yang cukup intens, terutama yang melibatkan senapan mesin dan bahan peledak. Siap-siap dengan bunyi tembakan mau pun ledakan yang memekakkan telinga.

Musik latar

Secara keseluruhan, musik latar yang dihadirkan sesuai dengan adegan-adegan yang ada dalam Generation War. Sendu dan bertempo lambat untuk adegan emosional, dan sebaliknya untuk adegan-adegan aksi. Syukurlah, tidak ada adegan percakapan yang bertumpang tindih dengan musik, sesuatu yang kurang saya sukai dalam sebuah film atau serial.

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum menonton miniseri ini

Generation War bukan miniseri penuh adegan manis yang bisa ditonton oleh siapa saja. Ada dua poin penting yang harus diperhatikan: adegan kekerasan dan adegan dewasa. Tidak ada sensor untuk keduanya, jadi harap berhati-hati. Saya pribadi tidak masalah dengan adegan tembak-menembak dan ledakan yang sengaja diarahkan untuk membunuh. Bukan berarti saya heartless atau dingin, tetapi saya merasakan kebutuhan akan adegan-adegan seperti itu untuk mewakili kekejaman perang. Namun, adegan dewasa sejujurnya sangat mengganggu saya, membuat saya terpaksa mengalihkan pandangan agar tidak bisa melihatnya.

Final thoughts and lesson learned

Bagi saya pribadi, Generation War adalah ministerial yang sukses dalam menghadirkan sudut pandang lain dari Perang Dunia II. Diproduksi di Jerman dan mengambil sudut pandang Jerman, banyak yang skeptis akan kebenaran nilai sejarahnya. Hal ini terbukti dari ulasan-ulasan yang menilai bahwa miniseri ini kurang mewakili sejarah atau terkesan seperti upaya pembenaran untuk kesalahan Jerman di masa lalu, suatu asumsi yang mungkin jamak untuk dimiliki oleh siapa saja. Apalagi, Jerman, bagi sebagian (atau mungkin hampir kebanyakan orang) dianggap sebagai penjahat dengan tragedi Holocaust dan berbagai tragedi lainnya. Namun, mari kita stop pembicaraan sejarah ini dulu karena saya belum begitu memahami sejarah, apalagi yang mengangkat isu sensitif seperti ini.

Setidaknya, dari sudut pandang para tokohnya, keikutsertaan Jerman dalam Perang Dunia II tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang sepenuhnya benar. Entahlah apakah kisah ini terkesan membuat para penonton bersimpati pada Jerman, saya kurang tahu pasti, tetapi ada kecenderungan demikian. Porsi adegan penderitaan tentara Jerman oleh kekejaman partisan maupun serangan musuh sepertinya sedikit lebih banyak, dibandingkan penderitaan yang ditimbulkan oleh Jerman selama Perang Dunia II (meskipun bukan berarti Jerman tidak melakukan kekejaman sama sekali dalam miniseri ini). Yang jelas, setiap tindakan yang kejam dalam Generation War tidak sesuai dengan hati saya, walau dilakukan oleh pihak mana pun. Soal netralitas dan kebenaran sejarah? Bukankah setiap negara bisa saja membuat sejarah dengan versinya masing-masing?

[Hmm, mudah-mudahan pertanyaan akhir bukan saya tulis semata karena menyukai miniseri ini, melainkan hanya lemparan opini yang mendesak kita untuk berpikir lagi.]

Advertisements

One thought on “Generation War (Unsere Mütter, unsere Väter)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s