Oh Boy (A Coffee in Berlin)

Sutradara: Jan-Ole Gerster

Pemain: Tom Schilling, Marc Hosemann, Friederike Kempter

Negara asal: Jerman

Tanggal rilis: 1 November 2012 (Jerman)

Durasi: 1 jam 23 menit

Sinopsis:

Film ini mengisahkan sekelumit keseharian Niko Fischer, seorang pemuda di penghujung usia kepala dua yang dikeluarkan dari sekolah hukum tempatnya pernah melanjutkan pendidikan. Tanpa pekerjaan, kehidupannya tidak bisa dibilang sukses. Namun, dari perjalanannya dari satu tempat ke tempat lain di Berlin sembari mencari segelas kopi, agaknya Niko bisa menemukan sesuatu yang bisa diambil sebagai pelajaran, pun jawaban atas pencariannya selama ini.

Ulasan

Plot

Alur dalam film ini bergerak linear dan progresif. Tidak ada kilas balik, pun tidak ada lompatan waktu. Pas dengan tema keseharian yang diusung.

Pada bagian awal, mungkin film ini terasa agak lambat dan membosankan, tetapi, seiring berjalannya waktu, banyak hal menarik yang muncul dari kejadian-kejadian yang mungkin sering dianggap biasa. Meskipun tidak menjanjikan plot yang bombastis penuh adegan aksi atau pun konflik dramatis, cerita yang sesungguhnya dari Oh Boy justru didapatkan dari kejelian dan kesabaran penonton dalam mengamati gerak-gerik para tokoh dan menyimak dialog antara mereka.

Saya khawatir akan kebablasan bila harus menjelaskan plot film lebih banyak lagi. Bagi yang tertarik, silakan buka laman ini. Sedikit gambaran bagi pembaca, adegan-adegan dalam film ini tidak terlepas dari kopi, seperti judulnya.

Karakter

Tanpa harus menggunakan narator, jelas bahwa tokoh sentral dalam film ini adalah Niko Fischer. Niko, bagi saya, tampak seperti pemuda yang gelisah dengan kehidupannya, tetapi memilih jalan yang paling santai. Ia bukan orang yang suka cari gara-gara atau bermulut pedas, tetapi bisa menjadi defensif bila disudutkan. Latar belakang pendidikannya di sekolah hukum tampaknya sangat berperan terhadap argument-argumennya yang cerdas, meskipun di sisi lain tampak kurang meyakinkan karena tidak didukung oleh penampilan Niko yang alakadarnya. Kehidupannya santai dan cenderung seenaknya, membuat Niko tak jarang terjebak dalam masalah. Selain itu, ia kurang suka bila ada orang asing yang terlampau dekat dengannya, atau dalam kata lain, sangat menghargai privasi dirinya sendiri. Namun, terlepas dari semua itu, Niko adalah pribadi yang cukup menyenangkan. Sikapnya kepada orang yang lebih tua pun santun. Ia juga tidak segan membantu bila ada yang membutuhkan pertolongannya.

Karakter lain yang penting untuk dibahas adalah Maitze, kawan karib Niko yang berprofesi sebagai supir taksi meskipun awalnya menjalani pendidikan sebagai aktor. Nasib dan pilihan-pilihan Maitze membawa lelaki itu dalam kehidupan yang pas-pasan, alih-alih karir cemerlang sebagai aktor,  tetapi tampaknya ia cukup bahagia meskipun sering menggerutu.

Selain itu, ada kawan lama Niko yang bernama Julika Hoffmann, yang dulu diejek semasa sekolah karena berat badannya yang berlebih. Bertahun-tahun tidak bersua, Julika tampak berbeda dengan penampilannya yang baru. Ia juga sangat percaya diri. Namun, ada sesuatu yang kompleks dalam pribadi Julika, yang membuat wanita itu bisa melakukan hal-hal yang tidak diduga.

Karakter-karakter lain dalam film ini ada beberapa, dengan usia dan perilaku beragam. Sekilas tampak seperti numpang lewat, tetapi masing-masingnya berperan dalam perkembangan cerita. Semua karakter memiliki kaitan dengan tokoh utama kita, Niko Fischer, dan yang agaknya yang dapat dikatakan paling berperan adalah seorang kakek yang bertemu dengan Niko di sebuah bar, dan bercerita panjang lebar seakan Niko adalah orang yang sangat dekat dengannya.

Sinematografi

Jujur saja, selain premis dan karakter, yang menarik dari film ini adalah sinematografinya. Gambar hitam putih yang digunakan membuat saya awalnya sempat bingung: apakah film ini berlatar kejadian masa lalu atau apa. Namun, tampaknya pemilihan gambar hitam putih memiliki alasan tersendiri yang tidak saya ketahui, terlepas dari latar masyarakat modern di Berlin yang dimunculkan dalam film ini.

Bagian paling menarik menurut saya adalah beberapa gambar lanskap kota Berlin yang sepi. Oh, maksud saya, lanskap kota yang kosong tanpa adanya satu orang pun. Gambar ini dimunculkan secara berganti-gantian dengan transisi yang pas, menjadikannya unik dan berkesan.

Musik latar

Sebenarnya, musik latar dalam Oh Boy cenderung sederhana. Agaknya karena tidak bertujuan untuk mendramatisasi adegan-adegan penuh emosi. Beberapa adegan malah dibiarkan senyap. Namun, justru kesederhanaannya itu yang membuat film ini menjadi indah, menurut saya.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan

Mungkin seperti banyak film dari negara-negara Barat, Oh Boy mengandung adegan yang tidak pantas, meskipun tidak ditampilkan berulang kali. Hal itu pula yang membuat pengalaman menonton saya sempat sangat terganggu. Selain itu, minuman keras (juga rokok) di sana sepertinya merupakan hal yang biasa. Jadi, saya ingin mengingatkan kepada siapa pun yang berniat untuk menonton film ini agar berhati-hati. Dan, yah, film ini bukan untuk ditonton oleh semua umur.

Final thoughts and lesson learned

Jujur saja, saya menonton Oh Boy  karena tertarik dengan performa Tom Schilling dalam Generation War. Saya pun menyukai performanya dalam film ini. Ekspresi wajah dan gerak gerik tubuhnya sangat meyakinkan dan sangat natural, seakan-akan dia tidak sedang berakting.

Ada banyak nilai yang bisa diambil dari film Oh Boy ini, terlepas dari warning yang sempat saya tuliskan sebelumnya. Misalnya, tentang perencanaan masa depan, sikap tidak mudah menyerah, serta bersikap ramah (walaupun acap kikuk) dan bersedia membantu mereka yang kesulitan. Niko, dengan pencapaian yang biasa-biasa saja, mampu membuat saya iri dengan kebaikan dan prinsip hidup yang ia pegang. Ia tahu kapan harus mempertahankan diri, kapan pula harus menahan diri. Meskipun demikian, adegan penutup film yang seakan menggantung, membuat saya tidak yakin dengan maksud film ini yang sebenarnya. Saya bisa mengaitkan adegan penutup dengan judul film ini, tetapi tidak yakin bisa menafsirkan lebih dari makna tersuratnya.

Apa adegan terakhirnya? Tentu saya tidak akan membocorkannya begitu saja.

Advertisements

One thought on “Oh Boy (A Coffee in Berlin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s