Who Am I – Kein System ist sicher

Sutradara: Baran bo Odar

Pemain: Tom Schilling, Elyas M’barek

Negara asal: Jerman

Tanggal rilis: 25 September 2014 (Jerman)

Durasi: 1 jam 42 menit

Sinopsis:

Film ini mengisahkan kehidupan Benjamin, seorang yang awalnya bukan siapa-siapa, tetapi memutuskan untuk menjadi hacker dan bergabung dalam grup CLAY. CLAY acap melakukan aksi yang gila untuk mendapat perhatian. Namun, keterkaitan CLAY dan  F13ENDS, grup hacker lain yang mahsyur di jagad dunia maya bawah tanah, membuat semuanya menjadi rumit bagi CLAY, termasuk Benjamin sendiri.

Ulasan

Plot

Alur dalam Who Am I maju mundur, dengan plot utama bergerak maju, tetapi diselingi dengan adegan-adegan kilas balik. Meskipun demikian, pergantian adegan disajikan dengan rapi, sehingga tidak menimbulkan banyak pertanyaan ataupun membingungkan. Selain itu, pace film ini cukup cepat, tetapi tidak tergesa-gesa, sangat sesuai dengan ketegangan demi ketegangan yang dibangun dalam film ini.

Baru adegan pertama saja, penonton sudah disuguhi dengan adegan yang menimbulkan pertanyaan besar. Selain itu, sampai akhir, saya tidak menemukan plothole. Semua pertanyaan terjawab dengan baik. Namun, ada beberapa adegan yang mengundang rasa ingin tahu saya, justru ketika misteri besar yang mengikat keseluruhan konflik dalam film ini telah terungkap.

Karakter

Tokoh utama sekaligus narator dalam Who Am I adalah Benjamin, lengkapnya Benjamin Engel, meskipun kemudian ia memutuskan untuk ‘membuang’ nama keluarganya saat menjadi hacker. Lahir dari keluarga yang tidak lengkap: ditinggalkan ayah dan ditinggal mati ibu, Benjamin tinggal bersama neneknya. Ia sangat tergila-gila dengan superhero dan bermimpi menjadi salah satu superhero walaupun sejak kecil, ia tidak pernah menjadi anak yang menonjol. Benjamin adalah sosok yang penyendiri dan tidak suka bergaul. Meskipun demikian, keahliannya dalam bahasa pemrograman komputer, membuatnya diterima oleh Max, Stefan, dan Paul sebagai anggota kelompok mereka.

Max, yang bertemu dengan Benjamin secara tidak sengaja, merupakan seorang laki-laki dengan penampilan yang menarik dan percaya diri, juga menguarkan aura  yang terkesan mendominasi, berkebalikan dengan Benjamin. Ia tertarik dengan keahlian Benjamin dalam bahasa pemrograman sehingga mengundang Benjamin untuk bergabung dengannya. Max memiliki ide-ide yang luar biasa dan seringkali nekat, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menolak untuk mengikutinya. Keahlian Max dalam memanfaatkan berbagai hal untuk mendapatkan (maupun mengalihkan) perhatian dari orang asing sangat berperan dalam aksi-aksi kelompoknya. Max menyebutnya social engineering.

Stefan, awalnya sempat meragukan Benjamin, tetapi kemudian mengakui kemampuan rekan barunya. Memiliki keahlian dalam bidang software, juga senang melakukan hal-hal yang menantang dan ‘gila’.

Paul, orang yang skeptis, dan satu-satunya yang paling sering mempertanyakan ide maupun keputusan Max. Tampak serius dan hampir tidak pernah tersenyum, tetapi sebenarnya baik. Sangat ahli di bidang hardware.

Marie, teman sekolah Benjamin, sekaligus gadis yang diam-diam disukai Benjamin sejak mereka berada di sekolah yang sama. Ia dan lelaki itu tidak sengaja bertemu lagi saat Benjamin mengantarkan pizza ke kampus Marie. Karena aksi untuk membantu Marie, Benjamin justru harus menerima sebuah konsekuensi. Meskipun demikian, Marie tampaknya menyenangi Benjamin sebagai seseorang yang menarik.

MRX, seorang hacker yang terkenal dan disegani di dunia darknet (internet dalam internet). Tidak diketahui nama aslinya, tidak diketahui asalnya. Ia adalah idola Benjamin, juga Max, sehingga mereka berdua menemukan kecocokan di sini. MRX punya tiga prinsip dalam hacking: Tidak ada sistem yang aman, tujulah sesuatu yang tidak mungkin, dan bersenang-senang di dunia maya serta dunia nyata.

Karakter-karakter lain dalam Who Am I, meskipun tidak saya sebutkan, tetapi sangat berperan dalam jalannya cerita. Sebut saja contohnya Hanne Lindberg, investigator dari Europol yang mencari keterangan dari Benjamin terkait CLAY dan F13ENDS. Dari awal, Hanne digambarkan sebagai sosok wanita yang cerdas dan cenderung dingin (tidak mudah bersimpati), tetapi belakangan, ia justru melakukan sesuatu yang mungkin tidak biasa untuk dilakukan oleh wanita sepertinya.

Sinematografi

Who Am I  diawali dengan sepotong adegan yang membuat saya bertanya-tanya, lalu dilanjutkan dengan video grafis yang sarat unsur teknologi untuk memperkenalkan tokoh dan kru penting yang terlibat. Pengambilan gambar dalam film ini lebih dinamis. Selain transisi normal untuk pergantian adegan kilas balik menuju plot utama atau sebaliknya, film ini juga menggunakan  transisi yang sangat cepat untuk menimbulkan kesan dramatis, seakan-akan ada cukup banyak hal yang harus diceritakan agar masalah dalam film ini terjawab. Beberapa adegan diambil dalam gerak lambat untuk tujuan dramatisasi juga.

Adegan-adegan aksi banyak diambil dalam gelap, terutama untuk aksi hacking yang harus dilakukan secara rahasia. Penggunaan cahaya yang minim ini juga menambah ketegangan tersendiri dalam aksi hacking yang dilakukan para tokoh.

Yang menarik dalam Who Am I adalah ilustrasi kreatif untuk kehidupan di dunia maya. Alih-alih hanya ditampilkan melalui sederet percakapan di layar komputer, film ini menggunakan adegan interaksi yang melibatkan sejumlah orang berpakaian serba hitam dan bertopeng dalam sebuah gerbong kereta untuk menggambarkan karakteristik interaksi berbagai orang di dunia maya. Adegan-adegan ini disajikan bergantian dengan adegan di dunia nyata, menjadikan interaksi dunia maya yang digambarkan dalam film ini memiliki daya tariknya tersendiri.

Musik latar

Musik latar dalam Who Am I didominasi oleh music techno, sesuai dengan tema film yang diangkat. Karena pace yang relatif cepat serta adegan-adegan suspense yang cukup mendominasi, musik latar yang digunakan cenderung bertempo cepat untuk membangun ketegangan. Namun demikian, musik instrumen yang bertempo lambat juga mengisi beberapa adegan emosional.

Hal-hal yang perlu diperhatikan

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah pergaulan bebas yang dihadirkan melalui adegan-adegan party mengisi beberapa bagian dalam Who Am I. Saya melewatkan adegan-adegan tertentu, semata khawatir bila interaksi antara laki-laki dan wanita dalam film ini terlalu intens. Selain itu, penggunaan psikotropika dalam film ini digambarkan sangat jelas, malahan dianggap sebagai kebutuhan esensial bagi hacker. Rokok dan minuman keras juga merupakan sesuatu yang dianggap biasa di dalam film ini, seperti beberapa film yang belakangan saya tonton. Kata-kata kasar menjadi sesuatu yang sering didengar sepanjang film. Terakhir, adegan-adegan yang mungkin maksudnya untuk lucu-lucuan dan having fun, tetapi tujuan itu dicapai dengan memperlihatkan bagian-bagian yang tidak lazim (bahkan sebenarnya tidak boleh) untuk diperlihatkan. Bukan, film ini bukan untuk semua umur.

Final thoughts and lesson learned

Another project of Tom Schilling!

Who Am I bisa dikatakan memenuhi kriteria saya untuk kategori film yang berkesan. Premis menarik, eksplorasi psikologis para tokoh, suspense, dan twist yang tidak diduga. Terakhir kali saya memperoleh kesan seperti itu adalah dari Whiplash, meskipun menurut saya, Who Am I lebih intens di bagian suspense karena melibatkan aksi-aksi dan bersentuhan dengan pihak yang berwajib.

Tom Schilling menawarkan akting yang sangat baik, sesuai dengan karakter tokoh utama yang diperankan. Ia tampak meyakinkan sebagai geek dan hacker, tetapi sangat natural, seakan-akan memang terbiasa dengan dunia hacking. Yang paling saya suka adalah gerak-gerik dan ekspresi wajahnya, terutama matanya, sesuatu yang menjadi daya tarik tersendiri dari aktingnya, juga menjadi syarat penting untuk suatu akting yang meyakinkan dan natural. Sebagai narator pun, ia berhasil melakukan tugasnya dengan sangat baik. Intonasi dan penekanan yang bervariasi membuat narasinya sebagai Benjamin menyatu dan menambah kompleksitas dalam cerita, bukan sekadar pengisi dan penjelas dalam adegan-adegan yang dilakukannya.

Saya juga menyukai akting Elyas M’barek sebagai Max di sini. Menurut saya, dialah yang cukup sepadan dengan Tom Schilling, tanpa bermaksud mengecilkan peran aktor dan aktris lain. Sepadan di sini maksudnya dalam hal intensitas peran. Mereka, dalam berbagai adegan seakan-akan sedang beradu peran dalam artian sebenarnya.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil, seperti menekuni hobi dengan bijak dan manusiawi, mempertahankan interaksi normal dengan orang lain, serta menjaga diri agar tidak sampai jatuh ke dalam jurang obsesi. Obsesi, seperti yang digambarkan dalam film ini, maupun beberapa film lain yang pernah saya tonton, selalu berujung pada konsekuensi yang tidak bisa dianggap enteng. Mungkin alasannya adalah karena obsesi selalu membuat seseorang mengabaikan dengan batas-batas yang telah ada semata untuk mencapai tujuannya. Dalam Who Am I, hacking bisa menjadi sesuatu yang mengerikan bila didasari oleh obsesi yang tidak sehat.

Advertisements

One thought on “Who Am I – Kein System ist sicher

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s