Belajar dari Kisah-kisah Terdahulu: Suatu Catatan Acak

forest-315184_1280

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Mungkin ini ada kaitannya dengan salah satu fungsi kognitif menurut tipologi MBTI: Si (introverted sensing), yang mengarahkan penggunanya untuk mengingat hal-hal yang telah terjadi dan menjadikannya sebagai sumber pertimbangan sebelum membuat keputusan, tetapi sebenarnya, setiap manusia seyogianya belajar dari kisah-kisah terdahulu. Baik itu kisah pribadi, sahabat, orangtua, pasangan hidup, motivator, atau tokoh-tokoh dunia, siapa saja. Ya, saya percaya bahwa kisah siapa pun bisa dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya.

Belajar dari kisah-kisah terdahulu memberikan bayangan kepada kita bahwa pengalaman atau situasi yang akan maupun sedang kita hadapi sebenarnya pernah terjadi sebelumnya, bahkan mungkin beratus-ratus tahun jaraknya dari saat ini. Kisah-kisah itu mengajarkan kita bahwa setiap perbuatan buruk selalu mendatangkan konsekuensi yang buruk, dan demikian pula sebaliknya, setiap perbuatan baik selalu mendatangkan konsekuensi yang baik pula. Selain itu, belajar dari kisah-kisah terdahulu mengingatkan kita untuk selalu rendah hati dan tidak serta-merta menutup diri dari kisah-kisah yang sarat akan hikmah.

***

Bagi muslimin dan muslimah, salah satu sumber kisah yang kaya akan pelajaran adalah Al-Qur’an. Saya mungkin terlalu awam untuk membahas ini, tetapi kisah-kisah dalam Al-Qur’an selalu menarik, entah untuk dibaca maupun diselami maknanya. Saya terpukau oleh presisi setiap kata yang menyusun ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung kisah-kisah itu. Apalagi bila dibayangkan, meski dengan kapasitas imajinasi yang terbatas, beberapa di antaranya mungkin tidak mudah dicerna oleh nalar, tetapi dengan iman, semuanya menjadi mudah untuk diyakini.

Belajar dari kisah-kisah para Nabi dan Rasul, salihin dan salihat, maupun umat yang ingkar, bila dibawa ke perasaan, mungkin akan mendatangkan luapan emosional sesaat. Namun, bila dicerna dan direnungkan, penuh akan hikmah yang bisa direnungkan dan dijadikan teladan. Mohon maaf bila pengetahuan saya masih sangat kurang, tetapi dari Al-Qur’an lah saya tahu bahwa para Nabi dan Rasul Allah adalah orang pilihan yang mengajak segolongan umat tertentu untuk beriman. Mereka tidak diperintah untuk langsung memerangi, malah justru diperintahkan untuk menyeru dengan cara yang baik, meski kepada penguasa yang kejam sekalipun (kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s). Dari Al-Qur’an pulalah saya tahu, bahwa untuk menjadi wanita mulia seperti Maryam, cobaan yang dilalui tidak tanggung-tanggung. Namun, beliau tetap bersabar dan tidak lantas menyalahkan takdir. Dan tentunya masih banyak lagi kisah dalam Al-Qur’an yang belum mampu saya paparkan di sini.

***

Belajar dari kisah-kisah terdahulu sepatutnya dilakukan oleh siapa saja yang haus akan ilmu dan panduan untuk menjalani hidup dengan baik. Mungkin saat ini kita masih biasa-biasa saja, belum memiliki pencapaian istimewa. Namun, sebelum kita telah berlalu orang-orang yang luar biasa. Mereka juga manusia seperti kita, tetapi lebih teguh prinsipnya, lebih tenang dan bersih jiwanya, lebih kaya ilmunya, lebih rendah hati dan membumi, lebih tegar dalam menghadapi cobaan. Mereka telah hidup sebagai manusia yang baik dan telah membuktikannya dalam kisah-kisah yang terus diulang-ulang dan dipelajari oleh generasi sesudah mereka.

Maka mengapa kita tidak mau mempelajarinya?

Advertisements

One thought on “Belajar dari Kisah-kisah Terdahulu: Suatu Catatan Acak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s