The Social Network, Good Will Hunting, dan Apa yang Bisa Diperbandingkan dari Keduanya

MV5BMTM2ODk0NDAwMF5BMl5BanBnXkFtZTcwNTM1MDc2Mw@@-horz

The Social Network IMDb page; Good Will Hunting IMDb page

Keduanya sama-sama film. Keduanya sama-sama berlatar budaya Barat. Keduanya sama-sama bercerita tentang tokoh utama yang jenius. Namun, yang satu mendahului yang lainnya. Lalu apa yang bisa diperbandingkan dari keduanya? Saya pikir ada beberapa hal yang menarik, meski saya mungkin masih belum cukup mampu mengupasnya secara telaten.

The Social Network, yang dirilis tahun 2010, memperkenalkan kita pada sosok Mark Zuckerberg, seorang laki-laki muda yang identik dengan Facebook, salah satu media sosial yang paling banyak digunakan. Mark Zuckerberg menempuh pendidikan di Harvard, kampur bergengsi di Amerika Serikat. Pembawaannya khas para jenius, berpikir dan berbicara cepat, sedikit (atau banyaknya) bernada sarkastis. Pada awal film, kita akan disuguhi adegan Mark (Jesse Eisenberg) dan Erica Albright (Rooney Mara) yang berbincang satu sama lain, dengan Mark yang seakan mendominasi dan hanya peduli dengan dirinya sendiri. Keisengan dan pembuktian diri membawanya untuk menciptakan situs yang mengurutkan para mahasiswi Harvard berdasarkan preferensi pribadi para pemilih. Singkat cerita, situs itu semakin berkembang dan menarik perhatian beberapa orang untuk bekerja sama dengan Mark. Mark pun mengiyakan tawaran itu. Namun, satu dan lain hal membuat Mark menentukan pilihannya, yang membuat beberapa orang yang awalnya bekerja sama dengan Mark akhirnya menuntut kerugian atas Mark.

Di sisi lain, Good Will Hunting, yang dirilis tahun 1997, juga bercerita tentang seorang genius bernama Will Hunting (Matt Damon) yang bekerja sebagai petugas kebersihan di Massachussets Institute of Technology (MIT). Will tidak menyambil sebagai mahasiswa di kampus teknologi prestisius tersebut, justru sering menghabiskan waktunya di perpustakaan. Pola hidupnya pun santai dan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bersenang-senang. Will sendiri membenci keangkuhan yang meliputi para akedemisi dan mahasiswa dan menganggap bahwa untuk pintar, tidak harus sekolah tinggi. Namun, keisengannya menyelesaikan soal yang dipajang di salah satu koridor kampus tempatnya bekerja, menarik perhatian seorang Prof. Gerald Lambeau, seorang profesor Matematika di MIT. Will sempat menolak, tetapi akhirnya bersedia setelah Lambeau membantunya dalam suatu masalah. Will akhirnya mengiyakan tawaran Prof. Lambeau untuk belajar dengannya dan harus menemui terapis psikologis. Saat mengamati sesi terapi itulah, Prof. Lambeau sadar bahwa hanya satu orang yang bisa menangani Will, yaitu Sean Maguire (Robin Williams).


Berdasarkan pengamatan amatiran saya yang tidak seberapa, berikut ini hal-hal yang berbeda dari masing-masing film tersebut. 

  • Alur cerita

The Social Network menuntut fokus yang lebih tinggi  dengan menghadirkan alur bolak-balik. Pendekatannya saya rasa mirip dengan Who Am I?, dimana ada plot utama yang bergerak maju (dalam hal ini, pembicaraan antara pihak penuntut dengan Mark), kemudian diselingi kilas balik ke masa-masa pengembangan situs yang kini dikenal sebagai Facebook itu. Film ini hampir sebagian besar diisi oleh adu pendapat yang intens (tetapi terkesan elegan karena .. ya, ini Harvard), yang mungkin terkesan terlalu ribut dan memusingkan, tetapi bisa diikuti asalkan cukup sabar mendengarkan.

Good Will Hunting di sisi lain lebih sederhana alurnya sehingga lebih mudah diikuti. Pace  tidak secepat The Social Network, argumentasi tidak terlalu intens dan memusingkan. Meski sama-sama berlatar dunia akademisi, film ini tidak terlalu melangit dengan istilah-istilah yang sulit atau orang-orang yang sibuk membicarakan proyek-proyek kelas tinggi.

  • Karakter utama

The Social Network menghadirkan karakter Mark Zuckerberg yang cerdas, punya tujuan, tetapi tidak begitu mampu bersosialisasi dengan baik. Sekilas tampak dingin dan tidak peduli. Emosinya tampak terkontrol dari luar, tetapi di balik itu, ia bisa melakukan apa pun sebagai kompensasi, atau upaya balas dendam. Mark tidak menyukai hal-hal sepele yang dianggap merepotkan, seperti perbincangan negosiasi yang mengharuskannya untuk berpakaian rapi.

Sementara itu, Good Will Hunting menghadirkan karakter Will Hunting yang terkesan santai dan antikemapanan, tetapi sadar bahwa dirinya punya potensi, hanya saja tidak mau menggunakan potensi itu. Ia merasa bahwa segala pengetahuan dapat diekstrak dari buku, alih-alih pendidikan berbiaya mahal.

  • Hubungan karakter utama dengan karakter lain

Aspek ini tidak bisa terlepas dari karakter tokoh utama, tentunya. Dalam The Social Network, Mark tampak antusias bila berbicara dengan orang yang dianggapnya setara atau memiliki visi yang sama dengannya, tetapi tidak demikian dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai ‘pengganggu’. Tampaknya Mark tidak mudah merasa bersalah kepada orang-orang yang dirugikannya.

Di sisi lain, dalam Good Will Hunting, Will Hunting sering tampak menyebalkan dengan persepsinya sendiri. Ia memiliki masa lalu yang kompleks, yang membuatnya juga tidak bisa membuka diri kepada orang lain. (Saya ingat satu adegan yang membuat saya kesal kepada si tokoh utama ini). Tidak hanya itu, Will juga seakan punya benteng yang tidak dapat ditembus dengan mudah. Hal ini yang menyebabkan Will Hunting seakan berusaha agar orang-orang yang mencoba dekat dengannya berpikir ulang untuk menjalin hubungan dengannya.

Kedua tokoh utama kita sama-sama soliter, tetapi dengan cara berbeda. Yang satu tidak terlalu menyukai sisi emosional dari sebuah permasalahan, yang satu lagi justru memendam emosi yang besar di dalam hati, yang sulit dilepaskan.

  • (Err… pesan moral?)

Pesan moral dari film The Social Network lebih samar dengan membiarkan penonton menduga-duga apa yang sebenarnya menjadi motivasi Mark Zuckerberg dalam mengembangkan bisnisnya, dan prinsip seperti apa yang digunakannya. Apakah ia mendewakan kepentingan atau malah persahabatan. Namun, sejauh yang mampu saya tangkap, kita bisa mengambil suatu pelajaran penting yang mungkin klise, yaitu, dalam berbisnis, kita sepatutnya tidak melupakan orang-orang yang membantu kita dari titik nol. Dengan menghargai mereka sebagai mitra, apalagi sahabat, hubungan bisa dijaga baik, dan bila ada masalah, bisa diselesaikan dengan baik dan tuntas. Masalah personal menurut saya lebih sulit untuk dituntaskan dibandingkan masalah profesional atau finansial karena melibatkan manusia (yang punya perasaan) dalam prosesnya.

Sementara itu, dalam Good Will Hunting, pesan moral ini terasa lebih nyata dan dapat ditangkap dari interaksi antara Will Hunting dengan Sean Maguire. Sean Maguire tidak lantas menceramahi sang tokoh utama, tetapi berusaha meyakinkan Will untuk lebih terbuka melalui kisah masa lalu dan masalah-masalah yang mereka hadapi. Dari film ini, saya belajar bahwa penting untuk melepaskan masa lalu yang menyakitkan sebelum bisa memulai hubungan baru. Persepsi pribadi bisa saja salah, tetapi kita akan terus terjebak dalam kesalahan persepsi itu jika tidak mau membuka diri dan belajar bahwa dunia luar tidaklah seberbahaya itu untuk dihadapi.

Secara pribadi, saya lebih suka Good Will Hunting dibandingkan The Social Network, tetapi keduanya sangat menarik untuk dinikmati dan dianalisis. Setidaknya, para jenius tetaplah manusia yang bisa terjebak dalam masalah. Bedanya mungkin dari level masalah dan kompleksitas pemikiran mereka dalam menghadapinya.

 

Advertisements

9 thoughts on “The Social Network, Good Will Hunting, dan Apa yang Bisa Diperbandingkan dari Keduanya

  1. udah lama liat judul film yang the social network, tapi belum ada keinginan untuk nonton.
    klo yang good will hunting, baru liat malah… 😀 dan Wow, ratingnya 8.3 di IMDB!

    Like

  2. Baru nonton Social Network, dan baru denger Good Will Hunting (ga update film nih saya). Kayaknya Good Will Hunting lebih menarik ya, karena tokohnya sendiri bukan mahasiswa. Kalo dari 5 bintang, masing-masing film dapet berapa Mbak?

    Like

    1. Kalau buatku pribadi sih, The Social Network 3,5 ; Good Will Hunting 4 🙂 iya, Good Will Hunting itu karakternya lebih kompleks dan kerasa pergulatannya dengan masa lalu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s