Saat Penjelajahan Berbuah ‘Penjajahan’

… Bukan kebetulan pula, kedua kata ini dalam kamus bahasa Indonesia adalah sinonim. Kita, yang dengan bangga menyebut diri sebagai penjelajah, pada hakikatnya juga adalah penjajah. Kita, bertopeng sebagai traveler atau backpacker yang menjanjikan kemakmuran ekonomi bagi mereka, sebenarnya adalah juga imperialis yang berdalih menikmati surga di bumi dengan harga yang murah meriah.

Turisme telah menjadikan tempat-tempat sebagai “atraksi”: “where to go” dan “what to see“, bagaikan kebun binatang manusia, dengan semua kandang menampilkan eksotisme masing-masing. Tradisi yang paling mati dihidupkan, yang hidup dikemas ulang supaya jadi yang paling memikat, biarpun palsu yang penting laku, “dijual” sebagai komoditas, dilempar ke pasaran turisme global. Para turis memilih-milih, paket mana yang paling memincut hati.

(Agustinus Wibowo dalam Titik Nol, halaman 182)

lokasi_sumatera_barat

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Saya sedang membaca buku ini, buku berjudul Titik Nol yang gaungnya sempat tertangkap oleh telinga beberapa tahun yang lalu. Berbeda dengan cerita perjalanan yang pernah saya baca, buku ini terasa berbeda. Sang penulis banyak tahu, banyak berjalan, banyak makan asam garam kehidupan, tapi tak lantas bertinggi hati, apalagi kelewat sinis, mencibir setiap senti peradaban atau pun jalan yang dipilih oleh manusia lain.

Dan membaca bagian yang telah saya kutip di atas, saya merasa tertampar sekali lagi. Saya teringat dengan daerah yang kini saya tinggali. Daerah itu bernama Sumatra Barat, sebuah provinsi di Pulau Sumatra yang menghadap Samudera Hindia. Daerah yang katanya tak terlalu kaya bila dibandingkan dengan provinsi tetangga penghasil minyak, provinsi tetangga yang punya bandara internasional nan megah, juga provinsi tetangga yang lebih dahulu memiliki bioskop yang senantiasa memutar film-film teranyar. Sebagian berkata bahwa daerah ini hidup dan menggantungkan diri dari pariwisata, disamping perdagangan dan perkebunan. Sebagian lagi bernostalgia dengan menyebutkan beberapa tokoh asal daerah ini yang jadi pahlawan nasional, pendiri bangsa, penggerak peradaban, penumpas penjajahan. Sebagiannya lagi ingin daerah ini tidak ‘begni-begini’ terus, mengeluhkan jaringan bioskop skala nasional yang tak kunjung masuk, mengeluhkan mal slash plaza yang cuma segelintir, dan toko buku besar yang cuma begitu adanya. Daerah ini harus modern, mengikuti provinsi tetangganya, demikian kata mereka.

Di daerah itu, saya tinggal di sebuah desa di Kabupaten Agam, tetapi lebih banyak hidup bersama Kota Bukittinggi, kota di Sumatra Barat yang dengan bangga menjuluki dirinya sebagai Kota Wisata. Bukittinggi Kota Wisata, slogan ini bahkan dijadikan lagu yang acap dimainkan setiap parade 17 Agustus. Sepanjang pengamatan saya, memang tak salah jika Bukittinggi berjuluk Kota Wisata: dengan luas wilayahnya yang tak sampai 30 km persegi, daerah ini menawarkan beragam destinasi wisata yang menarik. Ada Jam Gadang, menara jam yang terletak di jantung kota. Ada Jembatan Limpapeh yang menghubungkan dua bukit yang berada di kawasan kota. Ada Pasa Ateh (pasar atas) dan Pasa Aua Kuniang (pasar Aur Kuning) yang jadi pusat belanja pakaian, eceran maupun grosir. Ada Ngarai Sianok yang memisahkan Gunung Marapi dan Gunung Singgalang yang berdiri megah. Ada Benteng Fort De Kock peninggalan penjajahan Belanda. Yang terbaru adalah Janjang Koto Gadang, yang mencatut nama salah satu keajaiban dunia sehingga juga dikenal dengan Great Wall-nya Bukittinggi. Jenjang ini menghubungkan Ngarai Sianok dengan daerah Koto Gadang, yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Dulunya, orang-orang harus bersabar mendaki tebing yang curam, menempuh jalan tanah. Kini, pengalaman itu tak perlu lagi terulang. Sudah ada ratusan anak tangga dari beton yang kokoh dan relatif aman sehingga bisa ditempuh dengan berlari sekalipun.

Tak hanya di Bukittinggi, tampaknya setiap daerah berusaha menonjolkan geliat pariwisatanya masing-masing. Ada festival Pacu Jawi  di Kabupaten Tanah Datar, festival Tabuik di Pariaman, dan masih banyak lagi yang mungkin bahkan saya tak ketahui. Bahkan makan bajamba (makan bersama dari satu pinggan besar) yang biasanya hanya dilakukan pada acara adat pun dijadikan promosi pariwisata. Turis pun berdatangan baik dari domestik maupun mancanegara. Nama Sumatra Barat makin bergaung di acara-acara perjalanan yang disiarkan oleh stasiun televisi nasional. Ada rasa bangga ketika  tak harus berbohong saat memperkenalkan daerah asal saya kepada orang dari luar provinsi. Tak perlu mengaku sebagai orang Padang saat nyatanya kampung halaman saya berjarak kurang lebih 90 km dari ibukota provinsi itu. Namun, di sisi lain, ada rasa miris yang tak sekali dua kali mencuat di benak, merayapi hati.

Ya, di sisi lain, tradisi dan nilai-nilai luhur yang dulunya melekat di daerah ini memudar pelan-pelan. Bahasa Minang bertabrakan dengan bahasa gaul ibukota. Tak sulit mendengar remaja berbahasa daerah yang menggunakan pronomina gua dan lu di ibukota provinsi ini. Acara-acara adat dikonversi menjadi festival, yang kadang hanya tinggal meriah, tetapi kehilangan ruh-nya. Rasa malu perlahan lenyap. Saya terkesiap saat menemukan lelaki pribumi Minang bisa berada dalam satu frame foto dengan turis berbikini, berangkulan pula. Muda-mudi makin sering menghabiskan waktu di kafe-kafe berpendingin ruangan dan berjaringan internet nirkabel; pulang menjelang senja, bahkan baru kembali ke rumah pada malam hari.

Apa ini harga mahal untuk sebuah daerah yang menggantungkan penghidupannya dari pariwisata? Haruskah pariwisata jadi alasan untuk membiarkan arus pertukaran budaya mengucur deras, bahkan hingga pribumi harus kehilangan identitas? Namun, rasanya tak bijak juga untuk mengisolasi diri dari kemajuan peradaban, hidup dalam alur dan laju sendiri tanpa tahu apa yang terjadi di luar sana.

Mungkin, keseimbangan dan keteguhan prinsip adalah jawabannya. Biarlah arus pendatang yang masuk membawa aneka rupa kebiasaan, tetapi penduduk lokal jangan sampai hanyut di dalamnya. Biarlah negeri ini mencicipi manisnya kemajuan teknologi, tetapi jangan sampai menanggalkan jati diri. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Bukankah itu yang diajarkan kepada kita semenjak masa sekolah dahulu? Jangan biarkan pepatah itu tenggelam dalam buku, apalagi tergerus oleh waktu.

Gambar diambil dari sini.

Advertisements

17 thoughts on “Saat Penjelajahan Berbuah ‘Penjajahan’

    1. Iya, saya juga pernah dengar cerita serupa. Banyak yang keberatan dipanggil Mas di sini :). Tapi kadang orang Minangnya memanggil penjual bubur ayam, yang sebenarnya orang Sunda, dengan sebutan ‘Mas’. Nah lho 😀

      Like

  1. Padat banget bahasannya Mi.. 👍 Sempat juga tertegun dengan kalimat di buku itu, agak ‘menohok’ menurut An, tapi memang ada benarnya.. Kadang juga dilema melihat pengaruh negatif yg dibawa budaya lain.. mungkin saja dalam konteks ini penulis pun ingin memperingatkan kita secara halus tentang bagaimana seharusnya memaknai perjalanan, bukan cuma sekedar numpang dan ikut menikmati sajian yg disediakan.., ibaratnya habis manis sepah dibuang.. Dibuangnya pun malah di pekarangan si empunya manisan.. Jadinya nyampah 😂😅

    *akhirnya Ami baca jugaa 😂

    Liked by 1 person

    1. Mungkin efek bukunya An 😀 Iya, mungkin itu maksud penulisnya, mengingatkan para traveler untuk tidak terjerumus dalam penjajahan yang kadang secara tak sadar mereka lakukan. Sudahlah mau keindahannya saja, eh malah nyampah pula. Perumpamaan dilema ini dengan kisah si Aku dan si Dia di bukunya juga menohok, An :” can’t agree more.

      Iya nih, nggak nyesal baca bukunya (walaupun sampai sekarang masih separuh jalan).

      Liked by 1 person

    1. Iya Kak, kalau yang positifnya sering sekali dibahas dalam berbagai catatan perjalanan. Tapi itulah uniknya buku ini. Ayo baca bukunya, Kak 🙂 insya Allah nggak nyesel

      Like

  2. Salah satu tripku yg tak terlupakan ya di Sumbar, Mi..
    Makanannya enaaak, pemandangannya bagus, orangnya ramah..
    Tp memang selalu ada sisi buruk dr semua hal. Sayang memang bila acara adat hanya tinggal kemeriahan, istilahnya cm menarik dr sisi luar ya. Makanya aq salut jg dg orang2 Samin, Badui, trus yg di Jambi itu (Anak Dalam klo gak salah), yg berusaha tetap teguh memelihara nilai adat mereka..

    Like

    1. Iya Mbak, sayang kalau jadi tinggal meriahnya saja karena terlalu dieksploitasi. Iya aku juga salut dg orang Badui dan masyarakat adat lain, yang teguh memegang tradisi mereka.

      Syukurlah Mbak kalau trip di Sumbar tak terlupakan, aku jadi ikut senang 😉

      Liked by 1 person

  3. Terlahir sebagai org pariaman, entah kenapa belum pernah lihat tabuik *eh.

    Dgn kondisi Alam yg menyenangkan… — apa sih yg nggak ada di sumbar ; laut, sungai, air terjun bahkan sawah dan ragam keunikan bangunan dan budaya — saya berharap sumbar menjadi destinasi favorit bagi kebanyakan org. Maju dgn kenyaman wisata nan indah 🙂

    Like

    1. Eh ada Kak Kimi 😀 aduh aku jadi malu nih kak karena tulisan kakak bagus lho.
      Hehe, mungkin Way Kambas kak? haha tapi tentu Kak Kimi yang lebih tahu

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s