Bukan Masalah Kemauan, Melainkan Masalah Akses

Cka1UjcVEAIoFPo

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Judul di atas terbetik di pikiran saya saat mengikuti sesi Roadshow Sastra Perjuangan yang diadakan dalam rangka Minang Book Fair 2017 di Padang (27/2). Saat itu, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan mengenai budaya membaca yang rendah. Beliau adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan. Di sela-sela kesibukannya, beliau mengajak rekan-rekannya untuk giat membaca dan mengulas buku. Namun sayang, harapan beliau tidak sesuai dengan harapan. Bahkan sedihnya, dari sekian buku yang beliau pinjamkan, beberapa di antaranya tidak kembali lagi.

Bagaimana cara menumbuhkan minat baca?

Demikianlah kira-kira bunyi pertanyaan yang beliau ajukan waktu itu.

Menurut Tia Setiadi, penulis dan penerjemah yang waktu itu juga menjadi narasumber, fenomena seperti yang dituturkan oleh peserta tersebut merupakan gejala umum di daerah urban (perkotaan). Hal ini terjadi karena transisi antara masyarakat lisan menuju masyarakat visual terjadi dengan cepat, sehingga pembentukan tradisi membaca yang seharusnya mendahului tradisi visual tidak berlangsung dengan sempurna. Contohnya bisa kita lihat di daerah tempat tinggal kita, terutama yang berada di kota. Banyak orang yang lebih memilih televisi maupun kanal video daring sebagai sumber hiburan. Namun, yang membaca buku jumlahnya jauh lebih sedikit. Alhasil, masyarakat yang ada bisa dikatakan senang menonton, senang mengobrol (tentang hal-hal yang ditonton), tetapi enggan membaca.

Akan tetapi, ternyata tidak demikian halnya dengan wilayah pedesaan atau pinggiran wilayah urban. Alasan terbesar untuk rendahnya jumlah buku yang dibaca orang Indonesia setiap tahun (menurut survei UNESCO) mungkin bukan masalah minat baca, melainkan kesempatan untuk mendapatkan bahan bacaan. Buktinya, mealui ‘Pustaka Bergerak’, entah itu menggunakan kuda, perahu, becak, atau alat transportasi lainnya, antusiasme masyarakat sangat besar. Anak-anak mengerubungi buku yang diangkut jauh-jauh dari luar daerah tempat tinggal mereka. Dengan fenomena seperti ini, Tia Setiadi optimis jika dalam beberapa puluh tahun lagi, justru anak-anak daerah yang bergerak ke kota dan berkiprah untuk pembangunan Indonesia.

Urban ; fasilitas cukup, ogah baca

Rural ; fasilitas minim, antusiasme besar

Deddy Arsya, penulis kumpulan cerpen Rajab Syamsudin Si Penabuh Dulang, mengimbuhkan bahwa di daerah tempat tinggalnya pun, budaya visual telah mengambil alih, bukan hanya tradisi baca-tulis, melainkan juga interaksi antarpribadi. Miris sekali mengetahui bahwa lapau yang biasanya dijadikan tempat interaksi, kini justru tak lebih dari tempat alternatif untuk menonton televisi.

Yetti A.KA., seorang penulis yang karya-karyanya telah banyak dimuat di media massa, juga telah menulis beberapa buku, menambahkan bahwa si bapak tak perlu mengkhawatirkan rekan-rekan kerjanya yang enggan membaca. Lebih baik fokus dengan menumbuhkan minat baca pada anak-anak.

Saya pun setuju dengan beliau. Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua terubah tidak. Lebih mudah menumbuhkan kebiasaan baik pada anak-anak ketimbang pada orang dewasa (meski bukan mustahil). Daripada mengkhawatirkan generasi yang telah matang dan mapan, bukankah lebih baik mengalihkan fokus energi pada generasi muda pembawa harapan masa depan?


Sumber gambar: Twitter Nirwan Ahmad Arsuka

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Masalah Kemauan, Melainkan Masalah Akses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s