Tentara vs Pandu: Pola Pikir Siapakah yang Lebih Baik?

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Julia Galef, seorang pakar pengambilan keputusan, membahas topik tersebut dalam sesi TED Talks bertajuk Why you think you’re right, even when you’re wrong. Sebelum membahas manakah yang lebih baik antara keduanya, kita perlu mengulas sedikit mengenai definisi tentara dan pandu. Tentara adalah seseorang yang penuh semangat dan melakukan apa pun untuk membela diri sendiri dan kelompoknya serta melawan musuh. Di sisi lain, pandu merupakan seseorang yang punya rasa keingintahuan tinggi, senang menjelajah dan melakukan apa pun untuk memastikan informasi yang diterimanya akurat.Sekarang, bagaimana jika tentara dan pandu adalah sebuah istilah untuk menggambarkan pola pikir? Ada yang disebut pola pikir tentara, ada pula yang dinamakan pola pikir pandu. Lantas, apakah yang membedakan keduanya?

Bagi seorang tentara, atau siapapun yang memiliki pola pikir layaknya seorang tentara, ide atau informasi dihadapi seakan sedang berada di medan perang. Ada kawan, ada lawan. Ada sekutu, ada musuh. Asal sekutu, dibela mati-matian. Asal musuh, apa gunanya dipertahankan? Bahkan tak perlu didengar saking salahnya. Pola pikir seperti ini menghalangi seseorang untuk menilai suatu permasalahan secara objektif karena begitu pilihannya dihadapkan pada kondisi ekstrem, ia akan mendukungnya habis-habisan atau menjatuhkannya dengan berbagai cara.

Hal inilah yang terjadi pada skandal militer di Perancis pada abad ke-19, saat seorang perwira militer bernama Alfred Dreyfus didakwa atas tuduhan membocorkan rahasia militer kepada pihak Jerman. Kecurigaan itu berawal dari carikan kertas berisi tulisan tangan yang setelah ditilik, mirip dengan tulisan tangan Dreyfus. Hasil penyelidikan selanjutnya hanya semakin menguatkan dugaan bahwa Dreyfus bersalah. Pertama, Dreyfus belajar bahasa asing di sekolahnya, pertanda hasrat untuk berkonspirasi dengan negara asing di masa depan. Kedua, Dreyfus memiliki ingatan yang baik, modal yang cukup bagi seorang mata-mata. Padahal mungkin semuanya berawal karena militer Perancis waktu itu anti-Semit, yang bisa menjadi alasan mengapa tuduhan terhadap Dreyfus sebegitu sulitnya untuk dipatahkan. Dreyfus akhirnya dinyatakan bersalah oleh pengadilan, dicopot dari jabatan militernya, lalu dihukum seumur hidup di Devil’s Island, Amerika Selatan. Dreyfus memohon kepada pemerintah negaranya untuk membuka lagi kasus ini, tetapi permohonan itu ditolak. Kasus itu dinyatakan ditutup.

Julia Galef menyatakan bahwa pola pikir tentara (secara ilmiah disebut ‘penalaran termotivasi’) ini berbahaya karena mempengaruhi penilaian kita secara tak sadar. Kita bisa saja memiliki pola pikir seperti ini, tetapi merasa bahwa penilaian kita adil, tanpa bias, tanpa dipengaruhi apa pun, tetapi ujung-ujungnya kita menghancurkan kehidupan seseorang yang tidak bersalah seperti Dreyfus.

Nah, bagaimana dengan pola pikir yang lain, pola pikir seorang pandu?

Pola pikir seorang pandu berarti melihat sesuatu seakurat mungkin, meskipun tidak disukai. Bukan masalah suatu ide itu menang atau kalah, patut dibela atau tidak, memuaskan hasrat dan ego kita atau tidak, tetapi melihat fakta dan bukti secara objek tanpa terpengaruh prasangka, bias, dan motivasi. Mereka akan mengakui suatu ide meskipun tidak menyenangkan bagi diri mereka.

Pola pikir ini dicerminkan oleh sikap dan tindakan Kolonel Picquart, perwira tinggi lain di Angkatan Bersenjata Perancis kala itu. Ia sebenarnya juga anti-Semit seperti rekan-rekannya yang lain. Namun, ia meragukan bahwa Dreyfus bersalah. Bagaimana jika Dreyfus tidak bersalah? Spionase untuk Jerman ternyata masih berlanjut meski Dreyfus telah dipenjara. Selain itu, ia juga menemukan tulisan tangan lain yang mirip dengan tulisan yang ada di carikan kertas sebelumnya.

Butuh waktu hingga sepuluh tahun bagi Picquart untuk membersihkan Dreyfus dari tuduhan, dan sebagian dari kurun waktu itu ia habiskan di penjara karena dianggap membelot. Meski juga anti-Semit, Picquart menunjukkan pola pikir seorang pandu di sini, alih-alih pola pikir seorang tentara. Meski tidak menyenangkan baginya pribadi (Julia Galef menganggap tindakannya ini mengagumkan), ia mencoba untuk melihat permasalahan dengan jujur dan akurat untuk menghasilkan penilaian yang objektif.

Baik pola pikir tentara maupun pola pikir pandu berakar pada emosi. Namun, pola pikir pandu berakar pada emosi yang berbeda. Misalnya, rasa ingin tahu. Mereka merasa senang jika menemukan sesuatu yang penuh teka-teki. Mereka merasa tertantang jika menemukan sesuatu yang berlawanan dengan pendapat mereka selama ini. Bagi mereka, tidak masalah jika memiliki pemikiran yang berubah-ubah. Ada baiknya jika sesekali mereka menguji keyakinan mereka. Selain itu, para pandu juga membumi. Dengan kata lain, harga diri mereka tidak dilihat dari seberapa benar atau seberapa salah mereka mengenai suatu topik atau permasalahan. Para peneliti menemukan bahwa sifat ini memprediksi penilaian yang baik. Jika seseorang memiliki pola pikir pandu, besar kemungkinan ia juga memiliki penilaian yang baik.

Ternyata pola pikir pandu ini tak terkait dengan intelegensia yang tinggi, juga tidak ada hubungannya dengan kecerdasan atau wawasan pengetahuan seseorang. Pola pikir ini sebenarnya lebih terkait dengan emosi.

Dengan kata lain, Galef menambahkan, bukan instruksi dalam logika, retorika, probabilitas, atau ekonomi yang dibutuhkan untuk memperbaiki penilaian kita sebagai individu dan masyarakat, meskipun keempat hal itu berguna. Yang paling dibutuhkan adalah pola pikir pandu. Kita perlu mengubah cara kita dalam merasakan sesuatu–merasa bangga alih-alih malu jika ternyata pandangan kita salah. Merasa tertantang alih-alih defensif jika menemukan informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita. Jadi, pertanyaan selanjutnya yang perlu dipertimbangkan adalah:

Apa yang paling Anda dambakan–mempertahankan keyakinan Anda atau melihat dunia dengan sejernih mungkin?

Bagi saya pribadi, pola pikir tentara maupun pandu ini relatif. Di satu sisi, kita harus membela sesuatu berdasarkan nilai-nilai yang kita yakini (bukan dengan membabi buta, melainkan dengan memahami alasan dan penjelasan dibalik semua itu). Di sisi lain, kita butuh objektivitas layaknya seorang pandu dalam melihat suatu permasalahan. Khusus untuk keyakinan, ada keyakinan yang tidak masalah untuk  diuji dan ditantang, ada pula keyakinan yang jika diuji dengan cara yang tidak tepat (alih-alih didalami dan dipelajari) malah membuat seseorang menjauh dari tujuan sebenarnya.

Ada saatnya kita membutuhkan pola pikir tentara, tetapi ada saatnya pula kita harus melihat sesuatu secara objektif layaknya seorang pandu. Saya mengira, sulit bagi seseorang untuk melepaskan pola pikir tentara itu sepenuhnya karena setiap pribadi memiliki keyakinan mengenai salah-benarnya sesuatu. Ketika menjadi seorang pandu pun, belum tentu aspek salah-benar dapat sepenuhnya dilepaskan karena seperti yang dikatakan oleh Julia Galef, pola pikir tentara itu tidak disadari. Ketika kita yakin betul telah objektif dalam menilai sesuatu, bisa jadi, jauh di bawah kesadaran kita, kita sedang mempertimbangkan sesuatu berdasarkan hal-hal yang semula kita anggap subjektif.

Sebagian besar artikel ini disarikan dari artikel berjudul Why you think you’re right, even when you’re wrong oleh Julia Galef di ideas.ted.com.

Advertisements

2 thoughts on “Tentara vs Pandu: Pola Pikir Siapakah yang Lebih Baik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s