Pengalaman Menonton Surau dan Silek di Negeri Asalnya


 Bismillahmaanirrahiim…

Setelah tayang di bioskop-bioskop, film Surau dan Silek akhirnya pulang kampung ke Bukittinggi. Pemutaran film dilakukan di Balai Sidang Bung Hatta,  Novotel Bukittinggi, mulai dari 27 Juni sampai 6 Juli 2017. Awalnya saya tertarik, tetapi ragu karena harga tiketnya dan jadwalnya yang bertepatan dengan akhir libur lebaran, sementara Bukittinggi selalu padat di saat lebaran.

Namun, tak disangka niat ini bersambut dengan ajakan ibu saya. Tidak tahu juga kenapa, padahal biasanya kami di rumah jarang menghabiskan waktu dengan cara seperti itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk melihat situasi di Balai Sidang Bung Hatta dan memutuskan untuk mengambil tiket menonton pada hari Senin (3/7) pukul 15.00 sepulang bekerja.

Saat hampir tiba di lokasi, Jam Gadang menunjukkan pukul 15.00 lewat sedikit. Kami bergegas memasuki area Balai Sidang Bung Hatta. Saya kira filmnya sudah mulai tayang, ternyata penonton diminta untuk bersabar mengantre karena ruang ‘bioskop’ sedang dibersihkan.


Setelah menunggu beberapa menit, penonton dipersilakan masuk. Petugas menyobek karcis, kemudian penonton diminta untuk antre membentuk dua banjar. Setelah semuanya ready, penonton diarahkan untuk memasuki sebuah ruangan yang minim penerangan dengan sebuah layar raksasa di bagian depan. Setelah panitia menyampaikan beberapa pengumuman terkait kenyamanan menonton (termasuk untuk tidak merekam film), ruangan digelapkan pertanda film akan segera dimulai.

Baru saja film diputar, saya sudah dimanjakan dengan pemandangan Sumatera Barat yang di-shoot dengan apik. Setelahnya, yang saya tahu adalah saya terlarut dengan cerita sampai meneteskan air mata di beberapa adegan.

Meski kenikmatan menonton sempat terinterupsi karena ada penonton yang baru memasuki ruangan saat film sudah berlangsung, secara umum, pengalaman ini sungguh berkesan bagi saya. Saya belum pernah menonton film di layar lebar mana pun, bahkan menonton di bioskop pun  belum pernah karena yang ini juga belum masuk hitungan,  tetapi sensasinya saya rasa tidak jauh berbeda.

Film akhirnya selesai setelah satu setengah jam tayang. Saat adegan terakhir berganti dengan credit, para penonton beranjak dari tempat duduk mereka. Saya ingin melihat credit film ini, tetapi ada yang lebih penting yang harus diselesaikan. Saat kami tiba di luar,  panitia mengarahkan penonton untuk menuliskan kesan dan pesan di atas bentangan kain putih. Saya menuliskan tiga kata,  bagus, inspiratif, menggugah yang saya rasa sangat sesuai untuk mendeskripsikan film Surau dan Silek.

Mengenai seperti apa film Surau dan Silek itu sesungguhnya,  insya Allah akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya.
Dan sebelum saya lupa, mohon maaf lahir dan bathin kepada seluruh pembaca. Taqabbalallahu minna wa minkum.

 

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman Menonton Surau dan Silek di Negeri Asalnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s