Awakenings (1990)

awakenings

Bagaimana rasanya menjadi terjaga kembali setelah sekian lama ‘tertidur’? Bagaimana rasanya jika Anda membuka mata, bernapas, makan, dan bertambah tua, tetapi Anda sama sekali tidak menyadarinya?

Pada musim panas tahun 1969, Dokter Malcolm Sayer  (Robin Williams) mulai bekerja di sebuah rumah sakit di Bronx, Amerika Serikat. Di rumah sakit itu, ia menemukan banyak pasien yang mengalami katatonia. Berdasarkan riwayat penyakit pasien, ia mengetahui bahwa pasien-pasien tersebut merupakan penyintas wabah ensefalitis letargika yang merebak pada 1917-1928. Dr. Sayer menemukan karakteristik menarik dari pasien-pasien tersebut, yaitu mereka mampu merespons atau bergerak dengan kehendak yang berasal dari luar tubuh mereka. Hal ini menjadi cemoohan dari dokter-dokter lain di rumah sakit tersebut. Hanya seorang perawat bernama Eleanor Costello (Julie Kavner) yang bersikap baik kepada dokter tersebut, bahkan secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Dr. Sayer.

Salah seorang pasien tersebut bernama Leonard Lowe (Robert DeNiro). Leonard menarik perhatian Dr. Sayer setelah sesi komunikasi menggunakan papan Ouija yang berisi huruf-huruf yang dilengkapi dengan panah. Leonard menunjuk pada sebuah puisi karya penyair berkebangsaan Jerman, Rilke. Tak lama setelah itu, Dr. Sayer menghadiri sebuah seminar mengenai obat L-Dopa (Levodopa), sebuah senyawa kimia yang lazim digunakan untuk pengobatan Parkinson. Meski tidak ada bukti yang menyatakan bahwa L-Dopa bisa digunakan untuk mengatasi gangguan saraf yang dialami pasien-pasien di tempatnya bekerja, Dr. Sayer memohon kesediaan Dr. Kaufman (John Heard) untuk mengizinkan eksperimen itu, yang akhirnya diizinkan dengan syarat hanya dilakukan kepada 1 pasien dan dengan persetujuan tertulis dari keluarga.

Syarat itu pun terpenuhi. Dr. Sayer mengujicobakan L-Dopa terhadap Leonard. Berbagai dosis dan cara pemberian dicoba hingga pada suatu hari, Dr. Sayer menemukan Leonard telah berpindah dari tempat tidurnya, menulis, bahkan bisa berbicara. Dr. Sayer pun bersemangat untuk mengujicobakan obat tersebut kepada pasien yang mengalami gangguan serupa. Hasilnya pun sangat memuaskan. Mereka yang awalnya ‘tertidur’ kini sepenuhnya terjaga dan menemukan diri mereka kembali.

Kendati demikian, selalu ada efek samping untuk setiap terapi, termasuk untuk terapi L-Dopa yang memang bukti keamanannya terhadap ensefalitis letargika masih terbatas kala itu.


Saya menemukan judul film ini dalam deretan daftar film biografi yang layak ditonton. Tema kesehatan yang diusung membuat saya tertarik. Ternyata, setelah riset kecil-kecilan, saya mengetahui bahwa film ini sebenarnya diangkat dari memoar Oliver Sacks, dokter berkebangsaan Inggris yang menghadapi masalah yang sama. Dalam film ini, dibuat versi Amerikanya tetapi tidak meninggalkan hal-hal inti yang ada dalam kisah hidup beliau.

Dalam Awakening, saya seolah dibawa kembali ke masa lalu, ketika penyebab penyakit belum banyak dimengerti, apalagi pilihan terapi yang tersedia masih sangat terbatas. Namun, tenaga kesehatan kala itu tetap bersemangat untuk mencari jalan terbaik bagi pasien-pasien yang menderita. Saya pun tidak terlalu paham katatonia dan ensefalitis letargika itu seperti apa, sampai menonton film ini. Penderitanya tampak kaku dan bisa dikatakan tidak bisa bergerak sama sekali kecuali jika mendapat rangsangan, entah itu berupa sentuhan, musik, atau pola-pola visual.

Dr. Sayer pun membuat saya merenung dengan latar belakangnya sebagai peneliti, bahkan sebenarnya ingin mendapatkan posisi sebagai peneliti di rumah sakit, tetapi justru berakhir sebagai dokter yang sesungguhnya (klinisi). Awalnya ia tampak kikuk, apalagi dengan kondisi pasien yang di luar bayangannya. Namun, justru latar belakangnya sebagai peneliti, yang saya kira membuatnya berpikir kritis dan menemukan pola dari kejadian berulang. Juga pengalaman risetnya yang membuatnya berani untuk merumuskan hipotesis dan melakukan uji klinis, meski itu berisiko besar. Di sisi lain, Dr. Sayer pun bukanlah sosok sempurna. Ia kerap kikuk saat berinteraksi dengan orang lain, dan justru Leonard-lah yang meyakinkannya untuk lebih berani membuka diri terhadap orang lain.

Peran Robert DeNiro sebagai Leonard jujur saja membuat saya kagum. Tidak mudah untuk menjiwai peran sebagai pasien gangguan neurologis dengan ciri khas seperti kesulitan dalam mengendalikan pergerakan. Leonard juga yang turut memberikan kesan humanis dalam film ini dan memberikan kesan bahwa pasien neurologis, yang tampak seakan ‘tidak hidup’ sebenarnya masih hidup dan ingin sekali untuk bergerak seperti orang lain yang tidak ditakdirkan untuk mengalami hal serupa dengan mereka. Tak jarang ketika kita terlalu terbiasa berhadapan dengan pasien, kita merasa bahwa penderitaannya, kesulitannya, adalah hal yang lumrah, yang fenomenanya jamak ditemui di berbagai buku dan artikel penelitian. Padahal setiap orang adalah berbeda dan butuh pemahaman yang berbeda.


Terakhir, Awakening bukan sekadar perkara optimisme dan spekulasi seorang dokter untuk mencoba pengobatan terbaik bagi pasiennya. Bukan pula kisah menakjubkan mengenai keajaiban Levodopa dalam ‘membangkitkan’ mereka yang tertidur berpuluh-puluh tahun. Namun, seperti yang dikatakan oleh Dr. Sayer dalam film ini:

… what we do know, as chemical window closed, another awakening took place. That human spirit is more powerful than any drug. And that is what need to be nourished.

Terkadang kita diperlihatkan kepada bukti bahwa kesembuhan tidak selalu bergantung pada obat, dan bahkan obat pun tidak selalu membawa kesembuhan. Barangkali yang lebih penting justru adalah jiwa. Jiwa yang murni akan mampu mengambil hikmah dari setiap hal yang dialami, tak peduli seburuk apa pun itu.

Advertisements

2 thoughts on “Awakenings (1990)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s