Pendidikan Tinggi Farmasi, Mau Dibawa Ke mana?

auditorium-2488359_1920

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Judulnya seakan serius, tetapi mohon maaf jika nanti tulisan ini terkesan acak dan melompat-lompat karena saya ingin berbagi kegelisahan saja di sini. Sebagai seseorang yang berlatar belakang pendidikan di bidang Farmasi dan kini malah ditakdirkan menceburkan diri di bidang pendidikan, isu ini membuat saya gelisah sejak lama, tetapi semakin menguat intensitasnya belakangan ini. Saya juga bukan orang yang mampu menentukan kebijakan mengenai pendidikan farmasi di negara ini, hanya saja saya khawatir dengan arah pendidikan farmasi di Indonesia ini nantinya.

Jika kita membandingkan pendidikan farmasi di Indonesia dengan di negara maju, maka saya yakin tidak akan ada habisnya. Di negara maju pendidikannya ditunjang fasilitas lengkap, SDM yang kompeten, inovasi dan penemuan yang senantiasa bermunculan, dan lain sebagainya. Namun, secara umum perbedaan mendasar antara pendidikan farmasi di Indonesia dan di negara maju terletak pada cara pandang terhadap profesi farmasis/apoteker itu sendiri. Di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan beberapa negara lainnya, yang disebut farmasis adalah mereka yang bergelut dengan pelayanan kepada pasien atau masyarakat, sementara di Indonesia, apoteker selain bergerak di bidang pelayanan, juga bisa bekerja di industri dan fasilitas distribusi. Sementara menurut hemat saya, pekerjaan di fasilitas industri dan distribusi menuntut struktur kewenangan dan koordinasi berlapis yang membuat apoteker justru ‘bekerja’ alih-alih ‘berpraktik’. Mereka lebih banyak menggunakan sains farmasi ketimbang ilmu-ilmu farmasi klinis dan komunitas, walaupun tidak terbatas pada area itu saja (bidang industri dan distribusi juga terikat pada peraturan perundang-undangan, misalnya).

Kemudian, saya melihat bahwa permasalahan mengenai pendidikan tinggi farmasi seperti tidak ada habisnya, padahal di negara lain, mereka seperti sudah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga bisa turut membantu negara-negara lain. Sebut saja Amerika Serikat yang membantu pendidikan tinggi farmasi di Thailand sejak awal 1990-an melalui US-Thai Consortium. Nah, apakah kita punya model untuk kita ikuti terlebih dahulu sebelum mencoba untuk membuat model pendidikan sendiri. Namun, masalah lainnya pun muncul. Pendidikan tinggi farmasi harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara, walaupun didasarkan pada standar yang diakui dunia. Jika Inggris dan Australia sukses dengan model pendidikan farmasi selama 5 tahun dengan gelar Master of Pharmacy (M.Pharm.), Amerika Serikat dan Thailand sukses dengan model pendidikan farmasi selama 6 tahun dengan gelar Doctor of Pharmacy (Pharm. D), apakah kita bisa mencontek model tersebut begitu saja? Jika negara-negara lain sudah mengenal board certified specialists untuk farmasi, bagaimana cara mengadaptasi pendidikan farmasi spesialistik untuk Indonesia, mengingat profesi apoteker di Indonesia tidak berfokus pada pelayanan, melainkan masih bersifat umum. Apakah kelak akan dikembangkan program spesialistik untuk farmasis industri dan distribusi, seperti halnya untuk farmasis klinis?

Lalu, masih ada kegelisahan lain mengenai jumlah perguruan tinggi farmasi di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 100 institusi, sementara yang memiliki program studi profesi apoteker (PSPA) hanya sekitar sepertiganya. Lantas, sarjana farmasi yang ada harus berkompetisi untuk memperebutkan kursi di PSPA yang tersedia, sementara sebagian PSPA mungkin tidak menerima lulusan sarjana farmasi dari perguruan tinggi lain. Perguruan tinggi farmasi seperti memberikan ‘pilihan’ bagi lulusannya untuk tidak melanjutkan ke pendidikan profesi, sementara muara pendidikan tinggi farmasi sebenarnya adalah apoteker yang memiliki kewenangan dan kewajiban profesional, bukan sarjana farmasi yang dalam peraturan perundang-undangan pun dianggap sebagai tenaga teknis kefarmasian.

Dan… barangkali masih banyak lagi pertanyaan di kepala saya yang masih menunggu jawaban. Isu pendidikan tinggi menjadi topik menarik bagi saya belakangan ini dan saya berharap bisa mengambil bagian dalam menyelesaikan permasalahan di negara ini. Aamiin ya rabbal ‘alamiin…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s