Panggilan Jiwa

sunset-2451905_1920

Tadi pagi, alhamdulillah saya beserta dua orang rekan kerja mendapat kesempatan untuk menghadiri acara silaturahmi dengan pimpinan Kopertis Wilayah X. Dalam acara tersebut, ada banyak hal yang beliau (Koordinator Kopertis Wilayah X) sampaikan, tetapi intinya adalah pentingnya meningkatkan kualitas sebagai seorang tenaga pendidik (awalnya saya salah baca judul pada slide; saya kira tenaga kependidikan, yang mana kurang relevan dengan pekerjaan saya). Barangkali hal ini tak lebih dari petuah klise. Saya pun tak memungkiri hal itu karena pada beberapa kesempatan, saya kerap mendengar para pakar menyeru dosen untuk meningkatkan kualitas mereka.

Namun, mengapa dosen harus meningkatkan kualitas mereka?

Saat saya menuliskan kalimat tanya tersebut, bukan berarti saya hendak menggurui pembaca (yang entah seprofesi atau tidak), melainkan sebagai pengingat buat saya pribadi yang kerap mengalami fluktuasi motivasi.

Pertama, untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa dosen yang berkualitas akan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Analogi kasarnya adalah sebuah daging sapi berkualitas tinggi (wagyu beef, misalnya), jika dimasak menjadi steak oleh seorang pembuat dodol, maka tidak akan menghasilkan steak lezat bercita rasa bintang lima. Atau kayu jati pilihan yang berada di tangan tukang batu, tentunya tidak dapat berubah bentuk menjadi perabot jati yang bernilai tinggi. Artinya, sebaik apa pun masukan (dalam hal ini: peserta didik/mahasiswa), jika dididik oleh dosen yang tidak berkualitas, maka hasilnya tidak akan berkualitas.

Kedua, untuk meneruskan ilmu, keterampilan, dan perilaku yang baik kepada generasi berikutnya

Pemimpin yang ada hari ini adalah hasil didikan pada periode sebelumnya. Apa yang kita lakukan hari ini pun tak terlepas dari apa yang diajarkan maupun dicontohkan para guru kita. Saya pribadi juga merasakannya. Pembawaan, persepsi, cara pandang saya dalam melakukan tugas sehari-hari sedikit banyaknya saya ambil dari para guru yang saya anggap menginspirasi. Lantas, jika para dosen hari ini melakukan tugasnya setengah-setengah, bisa kita bayangkan akan jadi apa generasi muda ini nantinya.

Ketiga, untuk memulai perubahan dari jumlah yang sedikit

Jika dibandingkan dengan jumlah rakyat Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, jumlah mahasiswa yang berkesempatan untuk berkuliah hanya 30%. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan angka yang dimiliki oleh Malaysia (50%) dan Singapura (80%). Itu artinya, kesempatan berkuliah merupakan sesuatu yang mahal dan eksklusif di Indonesia. Kita tentunya tidak ingin merugikan bangsa ini dengan menyia-nyiakan pendidikan tinggi yang mahal harga dan nilainya. Bahkan, ekstremnya, dosen sangat berperan penting dalam mencerdaskan generasi muda, karena dengan semakin tingginya tingkat pendidikan, maka seyogianya insan muda Indonesia juga semakin beradab, berilmu, dan terampil di bidangnya.

Keempat, untuk meningkatkan daya saing bangsa

Selain itu, perkembangan teknologi saat ini membuat jarak dan batas antar negara seakan menjadi semu. Hari ini, kita berada di Jakarta, besok sudah mendarat di Frankfurt, menginap seminggu, kemudian terbang ke Sydney. Persaingan pun menjadi semakin ketat dengan kompetitor yang semakin beragam; tidak hanya dari sesama bangsa, tetapi juga dari berbagai bangsa di seluruh dunia. Tanpa kualitas yang baik, mustahil para angkatan kerja yang mengenyam pendidikan tinggi akan mampu bersaing dengan rekan-rekan ‘pesaing’ mereka dari luar negeri. Lama kelamaan, kita akan menjadi penonton di negeri sendiri, tanpa mampu berkontribusi untuk kemajuan bangsa.

Kelima, untuk naik ke jenjang karier yang lebih tinggi

Ini motivasi yang paling sederhana, menurut saya, tetapi saking sederhananya bukan berarti tidak penting. Karier dosen di Indonesia dimulai dari asisten ahli dan berakhir pada guru besar. Untuk memasuki jenjang karier tersebut, butuh NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional). Selain peningkatan jenjang karier, dosen juga perlu mengupayakan sertifikasi. Sederhananya, untuk menambah pundi-pundi yang awalnya tidak seberapa. Lalu, ada juga berbagai skema hibah ‘berduit’ yang sayang untuk dilewatkan. Selain untuk kepentingan ‘pribadi’ (penghasilan dan status), jenjang karier ini juga penting bagi institusi tempat dosen bernaung. Akreditasi prodi maupun institusi akan sulit untuk tercapai sesuai harapan jika dosen enggan untuk mendaki jenjang karier ini. Namun demikian, saya merasa bahwa poin kelima ini paling rentan mengganggu keikhlasan niat. Takutnya jika sibuk kejar poin, mengurus jabatan fungsional, dan segala tetek bengek kepangkatan ini akan mengalihkan diri saya dari tujuan yang seharusnya (bahkan tanpa iming-iming tambahan penghasilan pun, sulit untuk menjaga keikhlasan).

Untuk meningkatkan kualitas, seorang dosen harus berupaya untuk meningkatkan kapasitasnya dalam berbagai hal, khususnya terkait Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Hal ini tentu membutuhkan tenaga, pikiran, waktu, serta sistem dan lingkungan yang mendukung, terutama bagi dosen perguruan tinggi swasta yang memiliki tantangannya tersendiri dibandingkan dengan dosen perguruan tinggi negeri. Rasanya mustahil bagi seorang dosen untuk berupaya meningkatkan kualitas jika ia tidak memiliki panggilan jiwa untuk menjadi dosen karena ada begitu banyak usaha yang harus dilakukan, yang kadang tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh, terutama dari segi materi. Semoga rekan-rekan seperjuangan juga diberi kekuatan untuk mengemban amanah yang berat tersebut, aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s