Dalamnya Laut Dapat Diduga, Dalamnya Hati Siapa Tahu?

Ketika kita melihat tindakan atau perilaku seseorang, apakah yang akan kita lakukan pada saat itu? Menerimanya begitu saja atau menghakiminya habis-habisan?

Saya pribadi senang memikirkan (jika tidak menganalisis) hal-hal yang saya temukan di sekeliling saya. Dalam melakukan proses tersebut, saya tidak bisa lepas dari proses menilai, yang saya akui kadang tidak begitu objektif. Saya hanya berusaha untuk tetap kritis dan tidak serta merta menerima sesuatu begitu saja, bahkan penilaian sementara yang saya buat pun biasanya akan saya kritisi belakangan.

.

Sebut saja seorang pejabat pemerintahan yang saya akui cukup inovatif. Beliau seakan melawan stigma orang banyak terhadap pejabat pemerintahan (lebih tepatnya, kepala pemerintahan) di satuan pemerintahan setingkat desa di provinsi tempat saya tinggal. Beliau membuat terobosan-terobosan yang tak pernah saya pikirkan dapat muncul dari sebuah nagari. Namun, selintas saya menyangsikan, apakah terobosan-terobosan tersebut sekadar gimmick dan superfisial, mengingat waktu, tenaga, dan biaya yang harus dicurahkan untuk merealisasikannya. Belakangan, saya menangkap perspektif lain dari beliau sendiri saat jamuan makan malam. Beliau berkata yang kurang lebih intinya adalah beliau ingin ‘mencapai’ dan menyatu dengan masyarakat menggunakan ‘rasa’. Dengan ‘rasa’, masyarakat akan antusias dalam menyukseskan program-program yang mungkin dianggap nyeleneh bagi sebagian orang. Dengan ‘rasa’ itu pulalah, angka partisipasi masyarakat meningkat. Tuturan tersebut seperti menampar saya, mengingatkan saya untuk tidak terlalu dilamun skeptisisme pribadi.

.

Saya pernah menceritakan betapa ‘baru’ dan ‘menyenangkannya’ lingkaran pertemanan saya di tempat kerja belakangan ini. Meskipun bukan berarti tanpa masalah, sebenarnya semua baik-baik saja. So far so good. Namun, kembali pikiran saya menyelami fenomena yang superfisial ini. Bahwa keakraban di luar, haha-hihi, lelucon-lelucon, bahkan dedikasi untuk mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya pun tidak bisa dilihat secara unidimensional. Saya pun mencoba membaca situasi, bahasa-bahasa nonverbal, dan celetukan-celetukan ringan yang barangkali mengandung makna tersembunyi, dan mulai membuat dugaan-dugaan versi saya sendiri. Dugaan-dugaan tersebut saya konfirmasi dengan salah seorang teman akrab saya, dan beliau kurang lebih setuju. Bahwa seseorang dari lingkaran pertemanan kami adalah idealis yang nyaris murni, rela tidak mengambil apa-apa dan justru mencurahkan segenap ‘aset’ yang dia punya. Bahwa sebagian orang tetap mencari keuntungan dibalik kontribusinya. Bahwa si A begini dan si B begitu. Memang tidak seyogianya kita percaya terlalu awal, pun skeptis yang tak berkesudahan. Saya tahu bahwa terlalu naif jika saya menganggap semua orang yang bersesuaian dengan saya punya prinsip yang sama dengan saya, tetapi sekali lagi, jika saya tenggelam dalam analisis motif (yang tentunya menghabiskan waktu) saya tahu pasti ujungnya ke mana: skeptisisme, dan semua pertemanan, haha-hihi itu mendadak tidak asyik lagi.

.

Saya pulang lewat waktu lagi kemarin demi berdiskusi dengan dua orang teman. Hipotesis saya tentang kepentingan pribadi ini pun terlontar dan kedua teman saya ini juga melontarkan opini yang hampir sama. Namun, dari mereka, saya juga bisa mengambil kesimpulan bahwa setiap orang pasti memiliki kepentingannya sendiri. Yang membedakan antara golongan yang satu dengan yang lainnya; mengapa kelompok yang satu terbentuk dan menyisihkan orang-orang lain yang tidak sejalan, adalah visi-misi. Atau barangkali tujuan, jika saya boleh koreksi, entah itu tujuan jangka pendek atau jangka panjang. Tujuan yang sama akan menyatukan orang-orang dari beragam latar belakang, bahkan jika cara yang mereka pilih sama sekali berbeda. Namun prinsip yang sama, barangkali akan menyatukan orang-orang yang lebih serupa, di antara orang-orang yang bertujuan sama tersebut.

Saya pun tidak menafikan bahwa jauh di dalam diri saya, saya pun tidak terlepas dari kepentingan. Atau kepentingan yang dulu saya usung berganti dengan kepentingan yang lain. Semua orang bisa berubah (itu kata teman saya, yang juga saya amini). Yang terpenting bagi saya mungkin adalah bagaimana agar tetap berada di jalan yang benar dengan seminimal mungkin distraksi. Bagaimana agar apa yang tersembunyi sejalan dengan yang tampak, dan sesuai dengan tuntunan yang telah digariskan dalam Islam, agama yang saya anut.

.

Menduga hati orang lain memang menguras energi, dan saya tidak punya kapasitas yang cukup untuk memastikan bahwa dugaan saya benar atau salah. Namun, sebagai seorang yang percaya bahwa setiap kesalahan adalah pelajaran berharga, saya yakin bahwa dugaan-dugaan dan skeptisisme saya bermuara pada pemahaman yang lebih baik mengenai diri sendiri dan orang lain.

Hanya Allah yang mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi. Saya mah apa atuh?

 

Advertisements

2 thoughts on “Dalamnya Laut Dapat Diduga, Dalamnya Hati Siapa Tahu?

  1. Kita memang tidak dibebani menilai dalamnya hati
    Cukup dari apa yang terlihat
    Tapi kalo orang udah terjun ke politik
    Udah jelas sih
    Jadi terbolak-balik hatinya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s