Literasi Natsir dan Hal-hal Menyenangkan yang Terjadi Belakangan Ini

UKM memiliki dua bentuk. Internal dan eksternal. Di dalam, kita berbentuk UKM. Di luar, kita berbentuk gerakan.

Kurang lebih begitu yang disampaikan oleh Sdr. Novik, pembina UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Literasi Natsir, kepada saya dan beberapa pembina UKM lain di kampus kami beberapa waktu yang lalu. Entah seperti apa kalimat persisnya, saya tidak ingat. Namun, ucapan tersebut membuat saya memiliki suatu pemahaman baru: bahwa UKM bukan sekadar wadah untuk kumpul-kumpul sepulang kuliah, haha-hihi tidak jelas, apalagi sekadar sarana untuk mendapatkan atribut keorganisasian yang keren-keren (jaket atau baju kerja, misalnya). Bukan pula ajang untuk pamer-pamer foto awal periode kepengurusan maupun akhir periode kepengurusan. Lebih daripada itu, UKM sejatinya adalah sarana berproses bagi mahasiswa, entah itu berproses dalam mengasah soft skill maupun membentuk karakter. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dosen atau pembina harus mendampingi mahasiswa. Jangan hadapi mereka dengan muka masam, itu kata beliau kepada kami di lain kesempatan.

Beliau benar-benar serius dengan ucapannya tersebut. Tidak terlalu lama setelah 11 UKM di kampus kami terbentuk, UKM Literasi Natsir (dalam tulisan ini, saya lebih senang menyebutnya Literasi Natsir/LN) memulai penjelajahannya di bidang literasi secara resmi. Barangkali para penjelajah alam akan protes mendengarnya. Penjelajahan macam apa yang bisa dilakukan oleh LN? Kamilah yang menjelajah, merintis jalur pendakian, menggapai puncak bumi, menyusuri kelamnya lorong-lorong gua, mungkin begitu klaim mereka. Sementara orang-orang literasi hanya sibuk dengan aksara, kalimat, alinea, dan buku. Menambah-nambah angka minus kacamata saja.

Ehm, inilah yang perlu diluruskan. Meski literasi identik dengan membaca dan menulis, cakupannya tidak sesempit itu. Yang dibaca dan ditulis bukan hanya huruf, tetapi juga data, teknologi, dan humanistik. Demikianlah ruang lingkup literasi versi milenial, menggantikan ruang lingkup literasi versi tradisional (baca, tulis, hitung). Inilah yang menjadi ruang lingkup LN, sehingga seluruh anggotanya diharapkan melek terhadap bacaan, media, data, teknologi, dan humanistik.

Visi besar tentunya tidak dapat tercapai dalam semalam. Demikian pula halnya dengan LN. Mustahil mengharapkan anggota LN mendadak menjadi punggawa sastra era milenial, penulis skenario kelas wahid atau pengamat literasi media sosial level nasional dalam semalam. Bandung Bondowoso yang bisa membangun Candi Prambanan dalam semalam pun belum tentu mampu melakukannya. Karena itu, ketimbang berfokus pada pencapaian, LN memilih berproses dengan tekun dan sabar. Dari mana proses itu dimulai? Dari kumpul-kumpul di ruangan sederhana, membaca, berdiskusi, dan menulis. Tidak ada satu pun kegiatan maupun program yang tidak direkam dalam tulisan. Semua anggota mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri dan menjadi penanggung jawab dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan. Untuk mencegah rasa suntuk, lokasi maupun jenis kegiatan berpindah-pindah secara periodik. Adakalanya LN mengeksplor tempat-tempat yang sarat nuansa literasi, adakalanya pula LN menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan literasi. Dalam sebulan terakhir saja, LN sudah menyambangi Rumah Kelahiran Bung Hatta dan berhasil pula menyelenggarakan acara bedah buku, temu penulis, dan sarasehan pegiat literasi dalam satu waktu. Barangkali yang terakhir saya sebutkan sulit dipercaya untuk dilakukan sebuah komunitas baru, tetapi demikianlah adanya. Meski acaranya pun tidak glamor, cenderung bersahaja malah, tetapi tidak menghilangkan esensinya. Kesuksesan yang tampak dari luar sebenarnya adalah buah dari proses yang telah dijalani oleh para Literasio (sebutan bagi mereka yang tergabung dalam komunitas/UKM ini). Deadline tulisan, hari Sekre setiap minggu, siapa yang menjadi PJ kegiatan minggu ini, dan lain sebagainya. In my opinion, they deserve it!

Lantas, apa hal-hal menyenangkan yang terjadi belakangan ini bersama UKM Literasi Natsir?

Pertama, ada banyak kesempatan untuk turut berproses bersama para Literasio. Meski tidak mendapatkan gemblengan seperti anggota mahasiswa, setidaknya saya bisa turut merasakan seperti apa kunjungan berfaedah ke tempat-tempat yang bersejarah maupun memiliki nilai literasi (kami menyebutnya Tadabbur Literasi). Para Literasio yang melakukan kegiatan tersebut tidak sekadar mengagumi bentuk Rumah Kelahiran Bung Hatta, misalnya. Tidak pula sekadar mencari tempat-tempat yang instagrammable. Mereka ke sana belajar mengamati, ‘membaca’ tempat secara tersurat maupun tersirat, belajar bertanya, dan belajar menuliskan reportase. Saya yang biasanya menulis secara kasual pun jadi belajar mengenai menulis dengan serius melalui kegiatan tersebut.

Kedua, naik level dari secret admirer-nya literasi menjadi pembelajar literasi. Kenapa demikian? Karena saya dulunya mengagumi dan mengenal bidang ini tanpa punya banyak kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang telah lebih dahulu berkecimpung di dalamnya. Pengalaman saya baru sebatas blogging, sehingga yang saya ketahui hanya cara menulis konten di blog yang notabene jangkauannya belum seluas media massa. Itu pun hanya berdasarkan metode learning by doing. Karena bergabung dalam LN, saya bisa merasakan pengalaman baru, seperti menyelenggarakan bedah buku, menyimak penampilan literasi, dan temu penulis secara langsung. Bahkan, dalam kegiatan tersebut, saya mengenal orang-orang yang serius menekuni bidang literasi dengan didasari niat mulia untuk berbagi. Kesempatan sederhana tersebut, yang bagi sebagian orang terdengar biasa saja, adalah barang mewah bagi saya yang belum banyak pengalaman ini.

Ketiga, memperpanjang masa studi tanpa takut di-DO. Berada di antara Literasio yang mayoritas mahasiswa membuat saya serasa kembali menjadi mahasiswa. Saya bisa mengenal mereka lebih dekat tanpa dibatasi sekat-sekat ruang kelas atau pun literatur keilmuan. Di LN, topik pembicaraan kami beragam. Mulai dari topik yang serius seperti buku, koran, film, hingga topik yang lebih santai seperti kultur pop Korea, lengkap dengan bumbu delusionalnya. Kesempatan ini mungkin tidak akan didapatkan jika saya tidak bersentuhan dengan kegiatan pengembangan minat dan bakat mahasiswa secara umum, atau dalam hal ini, LN dengan bidang Literasinya.

Inilah pergerakan. Meskipun sedikit, tapi bergerak. Kalau banyak, tak bergerak, tak ada gunanya.

Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip kata penutup Pembina UKM LN dalam acara Bedah Buku dan Sarasehan Pegiat Literasi hari Minggu lalu (2/12). Saya berharap LN dan seluruh Literasio senantiasa konsisten dalam pergerakannya di bidang literasi tanpa merasa terbebani. Dengan literasi kita memahami, dan dengan literasi pula kita mengajarkannya pada sesama. Semoga niat para Literasio, termasuk saya, tetap lurus dan terjaga hingga akhir. Mudah-mudahan hal-hal menyenangkan itu bukanlah distraksi melainkan hasil dari proses yang sungguh-sungguh. Aamiin ya rabbal’alamiin

 

Membacalah, kau kenal dunia. Menulislah, dunia mengenalmu.

(Motto UKM LN)

Advertisements

2 thoughts on “Literasi Natsir dan Hal-hal Menyenangkan yang Terjadi Belakangan Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s