2018 Year in Review

Hari demi hari nyaris tak terasa pergantiannya, hingga tiba-tiba saja kita tersentak karena telah 365 kali bumi mengitari matahari pada orbitnya. Yap, tahun 2018 sudah hendak berakhir dan 2019 di ambang mata. Tanpa bermaksud mengultuskan tahun Masehi, saya ingin berbagi rangkuman perjalanan saya selama tahun 2018 ini.

Secara umum, tahun ini sebenarnya bisa dikatakan lebih menyenangkan. Meski tidak benar-benar bebas dari tantangan dan cobaan, atmosfernya secara keseluruhan lebih positif. Para pembaca setia mungkin pernah membaca beberapa tulisan saya yang menyiratkan kehadiran teman-teman seperjuangan di tengah suasana tempat kerja yang belum stabil. Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan pribadi-pribadi hebat dengan segala keunikannya. Sebagian dari mereka sudah saya kenal cukup lama, tetapi sebagiannya lagi bisa dikatakan teman baru. Apapun itu, saya bersyukur karena pertemanan yang terjalin itu tidak hanya sekadar kongkow-kongkow menghabiskan waktu, tetapi bermuara pada beberapa proyek yang insyaAllah bernilai positif. Misalnya saja, KKN tematik perdana di kampus tempat saya bekerja. Membayangkannya semula terasa berat, tetapi dengan izin Allah, alhamdulillah terlaksana dengan baik. Contoh lain, ada 11 UKM yang baru diresmikan di kampus, dengan sistem pembinaan yang terarah dan dimonitor dengan baik. Saya yang awalnya risau dengan pengembangan softskill mahasiswa, alhamdulillah sangat terbantu dengan ide dan masukan dari teman-teman yang dulunya merupakan aktivis mahasiswa kaliber universitas, bahkan nasional.

Dari segi transformasi personal, saya tak banyak mengalami perubahan sebenarnya. Namun, hal paling kentara yang saya rasakan adalah semakin wolesnya saya dalam menghadapi deadline-deadline semu yang kadang menyesakkan, padahal urgensinya relatif sekali. Saya mulai mempertanyakan banyak hal sejak bertemu dengan salah seorang teman yang usianya beberapa tahun di atas saya. Dia adalah orang yang terbilang frontal dan independen, berprinsip kuat, tak segan-segan untuk berbeda dari orang lain dan tak merasa butuh untuk sekadar ikut-ikutan. Sejak terlibat dalam beberapa proyek dan diskusi dengannya, saya mulai berpikir, jangan-jangan orientasi saya selama ini salah arah. Jangan-jangan saya masih berpura-pura mengabdi, padahal yang saya layani adalah ketenaran dan keuntungan pribadi. Maka perlahan saya mencoba lebih tenang sembari bergerak ke angka nol. Maksudnya, supaya saya fokus untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain, alih-alih terlalu mengkhawatirkan nominal rupiah, angka kredit, dan pencapaian-pencapaian semu lainnya. Barangkali Allah menyadarkan saya melalui perantara sosoknya. I am very grateful for that.

Di tengah-tengah keseruan dan roller-coaster kehidupan pekerjaan, alhamdulillah saya berkesempatan untuk mengikuti beberapa seminar, menjadi delegasi lomba Ramadhan, mengunjungi Yogyakarta lagi, dan mengikuti seleksi pegawai *ehm*. Saya juga melepaskan jabatan struktural per akhir tahun ini, selain karena sudah masanya, juga karena rasanya saya belum pantas untuk mengemban jabatan lagi. Saya sadar bahwa saya masih banyak kurangnya, dan saya khawatir jika ambisi pribadi berkedok misi penyelamatan akan menipu dan membutakan saya dari tujuan hidup yang hakiki.

Perkara membaca dan menonton film, sungguh, tak banyak kemajuan. Bahkan mundur dari segi angka. Namun, dari segi topik, barangkali ada yang berbeda. Saya mulai mencoba membaca buku nonfiksi dengan topik Filsafat Ilmu, buku catatan perjalanan, beberapa buku berbahasa Inggris dan sejumlah novel. Barangkali ini semua ada kaitannya dengan gaya hidup saya yang cenderung komunal di kantor. Saya banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi dengan teman-teman, utamanya dengan nama-nama yang saya sebut di atas, sehingga saya tak punya banyak waktu, bahkan tak merasa terlalu perlu untuk melarikan diri pada fiksi maupun film.

Tahun ini juga tak lepas dari bencana. Terutama semakin menjelang penghujung tahun: mulai dari kecelakaan pesawat, gempa bumi, hingga tsunami. Rasanya hidup ini begitu rapuh saat mendengar kabar-kabar duka tersebut. Belum lagi masalah saudara-saudari Muslim Uyghur yang mengalami ujian di negerinya. Saat kita bisa beribadah dengan leluasa, mereka justru dihalang-halangi dengan berbagai cara dan alasan. Namun, tak banyak pula yang bisa saya lakukan selain berdoa agar Allah melindungi kaum muslimin dari musuh-musuh Islam dan pemimpin yang zalim.

Akhir kata, saya berharap agar diri ini semakin baik lagi ke depannya. Mudah-mudahan perjalanan menyenangkan di tahun ini tidak mendistraksi saya dari tujuan, sebaliknya justru memicu saya untuk menjadi lebih baik lagi. Aamiin ya rabbal ‘alamiin…

Advertisements

2 thoughts on “2018 Year in Review

  1. Waaah itu baca buku dan nonton filmnya saya kalah deh kayaknya haha. Meski jumlahnya sedikit tapi topiknya itu lhoooo. Mantep! Saya maniak film dan buku tapi pencapaian tahun kemarin mundur banget, bahkan topik bacaannya nggak berkembang huhu 😦

    Semoga tahun ini lebih produktif lagi ya kitaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s