Ketika Kita Bicara Pembinaan

Pembinaan sebenarnya bukanlah kosakata yang asing bagi saya, setidaknya sejak saya menginjakkan kaki di Fakultas Farmasi salah satu PTN sekitar 10 tahun yang lalu. Pada saat itu, pembinaan lekat dengan citra negatif di benak saya: pemaksaan dan pembentukan secara semi-paksa agar para mahasiswa baru patuh dan menyesuaikan diri dengan efektif terhadap lingkungan baru yang keras. Dengan citra negatif di benak saya yang masih belia itulah saya melalui hari-hari pembinaan saya dengan enggan. Hasilnya bisa ditebak. Saya dinyatakan lulus bersyarat dan kehidupan saya di sana sebagai mahasiswa pun berjalan biasa-biasa saja.

Fast forward ke saat ini. Saya yang mestinya sudah efektif bertugas di kampus baru, masih berutang tugas di kampus sebelumnya. Tugas ini, anehnya, bukan tugas formal pula. Saya sendiri merasakan bahwa tidak semua orang yang dianugerahi tugas ini berkesempatan untuk melaksanakannya sungguh-sungguh. Namun, melihat berdirinya UKM ini (sebuah klub bahasa Inggris mahasiswa) sebenarnya adalah mimpi saya yang terwujud atas izin Allah dan usaha rekan-rekan saya. Saya pun tidak sampai hati untuk meninggalkan mereka begitu saja, meski yang saya lakukan selama ini adalah membiarkan mereka belajar sendiri untuk mengelola klub yang masih neonatus itu.

Tidak seperti seorang rekan yang kerap saya jadikan tempat bertanya itu, pengalaman organisasi saya masih jauh. Ilmu dan kemampuan bahasa Inggris saya pun biasa-biasa saja. Ditambah lagi, saya tidak punya cukup jam terbang terkait pembinaan klub ini. Maka jadilah saya meraba-raba dalam membina. Sebulan, dua bulan masih oke. Memasuki akhir tahun 2018, semuanya menjadi semakin tidak terkendali. Hari Sekre (sebutan untuk hari wajib aktivitas klub) mulai bolong-bolong, aktivitas online di grup juga sangat, sangat minim partisipasi. Saya pun nyaris kehabisan akal. Saran rekan saya untuk tetap berproses meski dengan jumlah anggota minim pun entah kenapa terasa tidak cukup. Di sisi lain, perhatian saya terbagi. Saya memikirkan ancang-ancang untuk pergi, sehingga saya kira jika saya menghabiskan waktu terlalu banyak di aktivitas pembinaan ini, para pengurus akan terlalu bergantung pada saya.

Beberapa bulan terus berlalu sejak saat itu. Saya mulai belajar menerima bahwa mungkin klub yang saya bina akan bernasib sama dengan klub-klub lainnya. Lagipula memang awal selalu menarik, sementara konsistensi biasanya terasa sejuta kali lebih berat ketimbang memulai. Namun, baru-baru ini, sebuah pukulan telak datang menghampiri. Klub yang saya bina kehilangan kesempatan besar untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya telah kami rencanakan sebelumnya. Saya cukup terimbas dampaknya. Beberapa hari terakhir ini saya habiskan untuk merenung, apa yang salah, apa yang harus saya lakukan untuk ‘menyelamatkan’ klub ini.

Saya pun akhirnya mendapat jawaban: masih terlalu dini bagi saya untuk melepaskan mereka. Di satu sisi, saya memang salut dengan kemandirian para pengurus dalam berproses dan mengelola klub, tapi, mereka justru kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka, kemampuan berbahasa Inggris itu sendiri. Saya selama ini melihat klub mereka sebagai sebuah organisasi yang ‘hanya’ perlu dikelola dengan benar, melakukan aktivitas rutin seperti yang ditugaskan, lalu selesai. Saya alpa melihat mereka sebagai anak-anak muda yang seharusnya punya kesempatan lebih untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris mereka.

Ya, saya seperti menyuruh anak umur 1 tahun berlari tanpa arahan, tanpa bimbingan. Mustahil akan membuahkan hasil.

Rekan saya masih memberikan nasihat dan sokongan buat saya untuk me-reset lagi proses pembinaan saya. Saya pikir nasihatnya tepat sekali. Dia bisa berproses sejauh ini dengan klubnya karena dia sudah memulai inisiasi sejak lama, mengenal personel-personelnya sejak lama, ditambah pendampingan yang terus-menerus (hingga membuat saya tidak habis pikir dengan energi dan waktunya yang tercurah buat klub yang dia bina).

Saya kemudian berpikir lagi. Barangkali ada masalah dengan aura grup lama, maka saya minta pengurus membuat grup baru. Saya juga merasa klub ini butuh wadah yang lebih leluasa, maka saya coba untuk merancang sebuah blog buat mereka. Alhamdulillah, kegiatan daring perdana kami (setelah proses reset) berjalan lancar. Ke depannya, saya akan mengejar ketertinggalan dengan berfokus pada skill yang harus mereka miliki dan mempercayakan proses pengelolaan klub kepada mereka. Setidaknya, mereka cukup mandiri dalam soal manajemen dan administrasi. Kini, saatnya bagi saya untuk memenuhi utang pembinaan yang sudah lama terbengkalai. Semoga dalam enam bulan ke depan, setidaknya, mereka bisa bertumbuh.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s