Bicara (Lagi) Tentang Pendidikan

Hari ini cukup selo, sehingga saya bisa istirahat siang untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu aktif bertugas di kampus. Setelah Ashar, saya teringat dengan podcast bertajuk ‘Sekolah Seni dan Sains’ yang diisi oleh Iqbal Hariadi dan Barry Mikhael dari Erudio School of Art & Science. Podcast ini cukup panjang sebenarnya, dengan durasi kurang lebih 1 jam 18 menit. Secara keseluruhan, podcast ini cukup menarik, terutama karena saya suka temanya, meski di beberapa bagian terkesan draggy. Barangkali karena saya agak tidak sabar menunggu Maghrib.

Oke, jadi podcast ini bicara tentang apa, sih, sebenarnya?

Secara umum, Iqbal dan Barry (guest) banyak membahas konsep pendidikan alternatif di Erudio School of Art & Science (selanjutnya saya sebut Erudio SAS). Erudio SAS ini adalah pendidikan informal setingkat SMA yang menggunakan seni dan sains untuk membantu para siswanya belajar memecahkan masalah. Berbeda dengan pendidikan formal yang mengacu pada kurikulum nasional dan berorientasi pada pengalaman belajar di kelas, Erudio SAS lebih banyak menggunakan project  untuk mengasah keterampilan para siswa. Untuk membekali para siswa dalam menyelesaikan project ini, Erudio SAS memberikan pilihan kelas/pelajaran yang banyak dan spesifik, bahkan jarang kita dengar di SMA umumnya. Sebut saja Astrofisika, Matematika Dasar, bahkan ada pelajaran khusus tentang Sampah. Selain itu, para siswa dan guru juga dibiasakan untuk menulis jurnal yang merekam perkembangan kompetensi mereka dari waktu ke waktu. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip continuous improvement yang memungkinkan segenap peserta didik dan pendidik dapat bertumbuh, alih-alih hanya terkungkung pada tingkat kemampuan yang sama.

Tidak hanya dari segi pengetahuan dan keterampilan, Erudio SAS juga menawarkan alternatif dalam membangun sikap dan tata nilai para siswa. Setiap 3 bulan sekali, biasanya ada pertemuan yang disebut Pertemuan Agung. Dalam Pertemuan Agung, para siswa, guru, dan seluruh tenaga yang terlibat di Erudio SAS terlibat dalam membahas peraturan maupun masalah yang terjadi di sekolah. Dengan demikian, para siswa dan guru terbiasa untuk berpikir kritis dan menghargai pendapat orang lain. Tidak jarang, pertemuan ini menghasilkan keputusan yang ‘mencengangkan’ tetapi tetap disepakati bersama. Semisal, pada saat ada insiden kehilangan ponsel di sekolah, dan pelakunya sudah ketahuan, para siswa yang lain justru mengusulkan si pelaku untuk magang dan melaporkan hasilnya di hadapan teman-teman seangkatan, mengingat si pelaku mengalami masalah dalam pertemanan dan finansial. Padahal biasanya, hukuman bagi pelaku kriminal di sekolah tidak jauh-jauh dari hukuman fisik, skorsing, dan paling tinggi, ya dikeluarkan dari sekolah. Namun, minim sekali upaya yang dilakukan untuk memahami akar persoalan yang menyebabkan pelaku melanggar peraturan.

Bagi Barry yang juga merupakan Kepala Sekolah Erudio SAS ini, kriteria sukses sekolah ini justru ketika para siswa banyak protes dan tidak langsung melanjutkan kuliah dengan kesadaran sendiri. Semakin banyak siswa protes, berarti semakin banyak pula siswa yang peka terhadap permasalahan serta kritis dalam berpikir, sehingga membantu pengelola sekolah untuk memperbaiki aspek-aspek yang sempat luput dari perhatian. Selain itu, ‘keberanian’ siswa untuk tidak langsung melanjutkan kuliah dengan kesadaran sendiri menandakan mereka tidak hanya mengikuti pakem yang sudah ada. Bahkan, kemudian Barry menjelaskan bahwa bukan perkara menunda kuliahnya yang penting, melainkan kemampuan para siswa/lulusan untuk mengambil keputusan dengan penuh kesadaran. Mereka bisa saja magang, traveling atau melakukan kegiatan lainnya sembari mencari tujuan hidup, yang memang tak selalu harus dicapai dengan kuliah. Hal ini diperkuat dengan argumen (Iqbal) bahwa remaja 17 tahun masih terlalu muda untuk benar-benar memilih jurusan secara sadar. Biasanya mereka baru menentukan pilihan jurusan kuliah beberapa bulan sebelum seleksi. Dalam hal ini, saya agak pro-kontra sebenarnya. Pro, karena memang banyak siswa yang memutuskan untuk kuliah karena pakem di masyarakat atau tuntutan orang tua. Banyak pula yang tidak memiliki dasar pertimbangan yang jelas dalam memilih jurusan. Hal ini cukup menjelaskan fenomena ‘salah jurusan’ yang kerap dialami oleh mahasiswa, mulai dari tingkat awal hingga tingkat akhir. Meskipun demikian, saya agak kontra juga mengenai usia yang terlalu muda untuk mengambil keputusan. Saya tak bisa menyingkirkan ide bahwa di masa lalu, para pemuda matang dan dewasa lebih cepat sehingga mereka bisa menentukan arah hidup mereka. Bahkan tak tanggung-tanggung, banyak ilmuwan masa lalu yang sukses menjadi polymath di usia belia.  Nah, sebagai alternatif, barangkali kita perlu merancang ekosistem pendidikan agar para siswa tidak terlalu lama mengambil masa pencarian jati diri setelah masa baligh. Dengan demikian, mereka bisa mengambil keputusan secara sadar dan berkontribusi penuh bagi masyarakat saat dewasa.

Di bagian akhir, Barry juga sempat mengutarakan gagasannya dalam meningkatkan pendidikan Indonesia. Dia menyebutkan beberapa poin gagasan, yakni: 1) meningkatkan kapasitas guru melalui training, 2) psikolog pendidikan dan perkembangan untuk memastikan bahwa para pelajar benar-benar belajar, dan 3) visi dan misi pendidikan (yang paling penting dan ultimate). Dalam hal ini, saya setuju, meski saya lebih cenderung menaruh poin 3 pada urutan teratas. Dalam pendidikan berbasis ‘hasil’ (outcome based-education) pun, tujuan selalu ditekankan untuk benar-benar dirumuskan oleh seluruh pemangku kebijakan pendidikan (pemerintah, lembaga pendidikan, pihak swasta, organisasi profesi, dan pihak lainnya). Tidak akan berhasil upaya peningkatan kapasitas pendidik, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, perubahan kebijakan seleksi calon peserta didik, maupun modifikasi kurikulum jika arah pendidikan belum jelas. Hal inilah yang menurut saya masih menjadi tantangan dalam pendidikan di Indonesia, entah itu pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi. Maunya pendidikan itu dibawa ke mana, sih? Selagi pertanyaan krusial ini belum terjawab dan pemangku kebijakan pendidikan masih bekerja sendiri-sendiri, saya rasa masalah pendidikan kita akan terus berada di titik yang itu-itu juga. Namun, setidaknya Erudio SAS sudah berupaya untuk menghadirkan secercah titik terang bagi pendidikan remaja Indonesia, di tengah huru-hara politik dan berbagai isu yang mulai membuat kita jengah. Maju terus pendidikan Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s