COVID-19: Suatu Cerita Personal

Seperti apa rasanya jika lingkaran penyebaran virus itu semakin menyempit, hingga tanpa sadar mengetuk pintu rumahmu?

Saat pertama kali dinyatakan terkonfirmasi pada tanggal 21 Oktober 2020, rasanya lumayan syok juga meskipun saya sudah merasa kemungkinan tinggi untuk positif. Pertama kali saya merasakan chills itu pada tanggal 16 Oktober 2020, lalu mulai demam dan sakit tenggorokan pada tanggal 17 Oktober 2020. Saat itu saya baru mengetahui ada salah satu anggota keluarga yang demam dengan gejala kehilangan penciuman. Rencana saya untuk kembali ke Padang pun ditunda. Hari Seninnya, tanggal 19 Oktober, saya swab di Puskesmas terdekat.

Waktu terkonfirmasi itu, saya mengalami demam yang lumayan tinggi, dengan penciuman mulai berkurang. Kemudian rasanya jadi mudah lelah dan juga mau tidak mau harus banyak istirahat. Mobilitas terbatas hanya di kamar saja dengan makanan dan minuman diantar ke depan kamar.

Esoknya, saya mulai minum obat (Azitromisin 500 mg 1 kali sehari selama 5 hari dan Oseltamivir 2 kali 1 selama 5 hari, (kalau tidak salah), vitamin C dan D. Sebelumnya, saya juga sudah minum Parasetamol untuk meredakan demam. Pada saat itu saya merasa efek yang tidak mengenakkan yaitu mual yang mengganggu. Setelah itu, nafsu makan juga berkurang karena makanan yang saya makan terasa tidak enak. Baru pada hari Senin depannya, alhamdulillah, gejala yang saya rasakan mulai berkurang. Pada akhir minggu kedua, kondisi sudah mulai membaik, tetapi baru pada swab test ke-4 saya mendapat hasil negatif dan pada swab test ke-5 saya konversi negatif (dinyatakan sembuh dari COVID-19).

Jadi, bagaimana rasanya?

Di awal-awal memang rasanya campur aduk. Antara tidak percaya dan sempat merasa down juga karena di saat kita sakit, kita cenderung ingin mendapatkan interaksi yang menghangatkan dari anggota keluarga, tetapi untuk kebaikan mereka juga kita harus diisolasi. Jadinya saya benar-benar merasa nol, seperti di-reset karena sebelumnya seperti sibuk sekali oleh urusan ini-itu. Alhamdulillah fakultas dan dosen-dosen juga sangat suportif jadi saya benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk beristirahat. Pada saat down itu juga saya menjadi diingatkan lagi mengenai siapa saya sebenarnya dan bahwa hanya kepada Allah saya bisa berserah.

Pada saat hasil swab tidak kunjung negatif juga rasanya saya diuji lagi kesabarannya. Meningkatkan ikhtiar melalui berjemur pagi, menggunakan antiseptik mulut dan juga ‘cuci hidung’ dengan larutan normal saline. Karena akhirnya negatif dalam waktu yang cukup lama, saya jadi merasa lebih bersyukur terhadap nikmat sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan orang tua dan saudara.

Di masa pandemi ini, saya melihat sebagian kalangan mulai tidak peduli dengan protokol kesehatan untuk pencegahan COVID-19 karena berbagai alasan. Bagi saya yang merasakan ‘tidak enaknya’ positif COVID-19, saya hanya bisa berharap semoga kita semua lebih bersabar dan patuh terhadap protokol kesehatan untuk kemaslahatan bersama.

2 thoughts on “COVID-19: Suatu Cerita Personal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s