Setiap orang memiliki pengalaman berbeda terhadap kegagalan. Ada yang tahan banting; semakin gagal malah semakin melenting. Ada yang awalnya kecewa, tapi segera bangkit. Ada pula yang terpuruk, bahkan mengalami trauma, hingga takut untuk mencoba lagi.

Dari pengalaman saya selama ini, saya punya sikap yang berbeda-beda untuk jenis kegagalan yang berbeda. Ada kegagalan yang saya sikapi biasa saja. Ada yang cukup menyita perasaan, tapi mudah dilupakan. Ada pula yang cukup membekas hingga mempengaruhi bagaimana saya memandang suatu hal yang perlu diusahakan. Seperti serangga yang terpenjara di dalam sebuah kotak seukuran korek api, setinggi apa pun dia melompat, toh, dia hanya akan berakhir di kotak yang sama.

Meskipun belakangan saya sudah menemukan lagi motivasi untuk mencoba dan tidak menurunkan standar, kadang memori kegagalan itu masih saja menghampiri. Akhir pekan kemarin, saya menemukan beberapa video secara tidak sengaja di YouTube. Saya merasa video-video ini bermanfaat bagi saya karena membuka perspektif baru dalam melihat suatu kegagalan.

What I learned from 100 days of rejection

Video ini sangat berkesan bagi saya pribadi dan mungkin juga bagi para netizen di luar sana. Simak saja kolom komentarnya, banyak orang yang merasa TED Talk oleh Jia Jiang ini sangat otentik, tulus, dan menginspirasi. Jia Jiang adalah seorang pembicara dan penulis yang fokus pada topik kegagalan dan cara mengatasinya.

Dalam video ini, Jia Jiang bercerita bagaimana pengalaman masa kecilnya membuatnya tumbuh menjadi orang yang takut terhadap kegagalan. Pada usia 14 tahun, dia menemukan energi yang meluap-luap untuk menjadi seorang pengusaha setelah mendengar Bill Gates berbicara di suatu kesempatan di Beijing, China. Namun, ketika dewasa, Jia merasa hidupnya mandek di satu tempat dan memutuskan untuk melakukan eksperimen bernama 100 days of rejection. Konsepnya adalah, Jia melakukan 100 hal yang ‘mustahil’ dan merekam pengalamannnya tersebut dengan video dan mengunggahnya di YouTube.

Selama 100 hari tersebut, Jia menemukan bahwa penolakan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Meski di awal, Jia ‘lari’ ketika permintaannya ditolak, pada percobaan-percobaan berikutnya, dia bisa menghadapi penolakan dengan lebih baik. Bahkan penolakan bisa berubah menjadi persetujuan saat dia bertanya ‘kenapa?’, dan melakukan negosiasi. Satu kalimat yang saya sukai dari video tersebut adalah, “Orang-orang yang mengubah dunia adalah mereka yang awalnya dihadapkan pada penolakan, bahkan mendapat tentangan keras”. Mereka tidak membiarkan dirinya ditentukan oleh penolakan, justru merangkul kegagalan tersebut dan mengubahnya menjadi suatu gagasan besar. Yang penting adalah tindakan kita setelah penolakan, bukan penolakan itu sendiri.

How to Figure Out What You Really Want

Ashley Stahl membuka ceramahnya dengan sebuah kasus penculikan yang dialami oleh keluarganya. Seorang asing menghubungi ayahnya dan terdengar tangisan seorang perempuan. Penculik itu mengatakan anak perempuan Anda bersama kami, kurang lebih begitu, dan meminta sang ayah untuk berkompromi. Ashley Stahl menjadi satu-satunya anak perempuan di keluarga itu, setelah kakaknya meninggal dunia enam bulan sebelumnya. permohonan sang ayah untuk berbicara dengan anaknya ditolak dengan sebuah ancaman. Di sela-sela percakapannya dengan penculik, ayah Ashley sempat memperlihatkan tulisan kepada istrinya, mengabari bahwa anak mereka diculik dan meminta untuk menghubungi 911.

Singkat cerita, polisi membuntuti ayah Ashley yang menuju bank dengan telepon tersambung. Di saat-saat genting tersebut, polisi berhasil menghubungi Ashley yang ternyata sedang berada di kota lain untuk melakukan sebuah pekerjaan. Di luar dugaan, penelepon itu ternyata penipu yang ingin memeras ayah Ashley. Penipuan itu pun berhasil digagalkan dan ayah Ashley meminta anaknya pulang ke rumah.

Ternyata, tak hanya penculik yang bisa melakukan penculikan, tetapi kita juga kerap menjadi ‘korban penculikan’ oleh diri kita sendiri. Kita sering melakukan hal-hal yang tak diinginkan karena ‘tak ada pilihan yang lebih baik’. Oleh karena itu, Ashley Stahl menyampaikan tiga poin untuk mengetahui hal yang sebenarnya diinginkan.

#1 Lakukan audit terhadap diri sendiri

Tanyakan kepada diri sendiri, apa yang sesuai dan tidak sesuai untuk diri kita. Meski rasa takut itu penting untuk menjauhkan diri dari berbagai bahaya dan ancaman, kenyataannya, rasa kecewa dan terluka membuat kita memiliki ‘rasa takut yang lain’, yakni rasa takut mengambil risiko. Akhirnya, kita mulai menjadi seseorang yang realistis dan mengambil pilihan yang ‘bertanggung jawab’. Padahal, sebenarnya kita masih dibayangi takut terhadap kritikan orang lain. Dan menurut Ashley Stahl, orang-orang yang menyebut dirinya realistis adalah seorang pemimpi yang patah hati di tengah proses untuk meraih mimpi itu.

#2 Ikuti kebebasanmu

Ikuti apa yang ‘terasa baik’ oleh diri kita. Caranya dengan mengikuti insting/naluri. Diri kita punya naluri untuk mengikuti sesuatu yang terasa baik, maupun sebaliknya. Kita juga harus peka dan memperhatikan apa yang kita rasakan, jika perlu, buatlah jurnal untuk mencatat momen-momen yang menginspirasi kita. Ketika kita dalam keadaan terinspirasi, saat itulah kita tidak merasa takut.

#3 Laksanakan

Kita tidak pernah tahu apakah sesuatu itu benar-benar cocok bagi diri kita tanpa melakukannya. Kejelasan muncul dari melibatkan diri secara langsung terhadap hal yang ingin kita lakukan, bukan dari pikiran semata. Dari beberapa hal yang kita rasa ingin dilakukan, pilihlah satu hal dan berkomitmenlah untuk melaksanakannya. Tidak masalah untuk melakukan perubahan di tengah jalan. Tidak melakukan apa-apa dan hanya sibuk membayangkan sesuatu lebih buruk ketimbang melakukan sesuatu dengan tidak sempurna.

Pada hakikatnya, perjalanan hidup kita tidaklah selalu mulus. Terkadang kita meraih kesuksesan bahkan tanpa diminta. Namun, ada masanya kita terus-menerus gagal meski telah berusaha mati-matian. Dari sudut pandang kedua orang pembicara tersebut, saya belajar bahwa kegagalan dan penolakan yang dihadapi dengan baik dapat membawa kita kepada situasi yang lebih baik. Terkadang bukan kegagalan itu sendiri yang membuat kita takut mencoba, melainkan pikiran dan rasa takut terhadap kritikan orang lain. Namun, dikaitkan dengan apa yang saya yakini, perjalanan hidup itu tak terlepas dari takdir Allah. Kegagalan maupun keberhasilan adalah ketetapan-Nya, bukan sesuatu yang ada di dalam kewenangan saya sebagai makhluk. Sebagai hamba dan khalifah di muka bumi, tugas manusia adalah beribadah, berikhtiar, dan berserah diri. Dengan itu, seyogianya manusia bisa bangkit dari kesulitan di dalam hidup. Yah, ini pun sebenarnya adalah PR bagi diri saya. Semoga bisa melakukannya dengan lebih baik ke depannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s