Terdapat dua kelompok hand sanitizer, yakni hand sanitizer berbasis alkohol dan hand sanitizer bebas alkohol. Hand sanitizer berbasis alkohol (HSBA) dapat mengandung satu atau lebih jenis alkohol, dengan atau tanpa bahan tambahan (seperti humektan) untukdapat digunakan pada tangan guna membunuh mikroba dan menekan pertumbuhan mikroba secara temporer. HSBA memiliki kelebihan, seperti dapat secara efektif dan cepat mengurangi mikroba dengan spektrum luas tanpa air atau mengeringkan tangan dengan handuk atau tisu.

Namun demikian, terdapat keterbatasan HSBA seperti efek antimikrobanya bekerja singkat, serta aktivitas lemah terhadap protozoa, virus non-lipofilik, dan spora bakteri. HSBA tersedia dalam beberapa bentuk sediaan, seperti gel, cairan, dan foam. Secara umum, studi menunjukkan bahwa gel dan foam lebih diterima oleh konsumen dibandingkan bentuk cair terutama karena lebih mudah ditangani. Namun, bentuk cair meninggalkan kesan bersih yang lebih baik dan lebih cepat kering. HSBA dalam bentuk spray yang memicu aluran larutan aerosol memungkinkan kontak langsung larutan alkohol dengan permukaan target. Akan tetapi, terdapat keterbatasan sediaan spray, antara lain penyemprotan berlebihan, terhirup oleh pasien, dan mudah terbakar .

Selain itu, WHO dan United States Pharmacopoeia (USP) Compounding Expert Committee (CMP EC) menyarankan tiga formulasi untuk membuat hand sanitizer berbasis alkohol untuk digunakan selama pandemic COVID-19 pada tabel berikut.

Tabel 1. Formulasi hand sanitizer menurut WHO dan USP Compounding Expert Committee

KomponenFormulasi 1: Larutan antiseptik topikal etanol 80%Formulasi 2: Larutan antiseptik topikal isopropil alkohol 75%Formulasi 3: Larutan antiseptik topikal isopropil alkohol 75%
Etanol 96%833,3 mL
Isopropil alkohol 99%757,6 mL
Isopropil alkohol 91%824,2 mL
Hidrogen peroksida 3%41,7 mL41,7 mL41,7 mL
Gliserol 98%14,5 mL7,5 mL7,5 mL
Air*, ditambahkan hingga1000 mL1000 mL1000 mL

Hand sanitizer menjadi alternatif manakala sabun dan air tidak tersedia. Kadar minimal alkohol yang disarankan adalah 60% yang penting untuk memberikan efek mikrobisida. Dibandingkan dengan sabun, HSBA tidak mengeliminasi segala jenis kuman, seperti norovirus dan Clostridium difficile, tetapi hand sanitizer lebih mudah digunakan. Kebanyakan orang tidak menggunakan hand sanitizer dalam jumlah yang cukup, terlebih HSBA dapat menguap sebelum digunakan merata ke permukaan tangan, sehingga mengurangi efektivitasnya. Hand sanitizer juga tidak dapat bekerja dengan baik jika permukaan tangan benar-benar kotor .

Meski hand sanitizer kurang efektif dibandingkan sabun dalam beberapa situasi, hand sanitizer merupakan bentuk penjagaan kebersihan tangan yang lebih disukai dalam pelayanan kesehatan. Penggunaan HSBA dapat meningkatkan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap praktik menjaga kebersihan tangan karena mudah diakses dan membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk digunakan. Untuk memaksimalkan efikasi hand sanitizer, diperlukan sekitar 2,5-3 ml cairan yang diletakkan di atas telapak tangan, kemudian digosokkan pada seluruh permukaan kedua tangan selama 25-30 detik untuk memaksimalkan efikasi hand sanitizer.

HSBA mengandung alkohol dalam bentuk etanol, isopropanol, atau n-propanol dengan konsentrasi 60-95% untuk aktivitas bakterisida optimal. Efek antimikroba alkohol disebabkan kemampuannya untuk melarutkan membran lipid dan mendenaturasi protein mikroba. Alkohol memiliki spectrum aktivitas antimikroba luas terhadap bentuk bakteri yang paling vegetatif, fungi, dan virus beramplop. Kendati demikian, HSBA tidak efektif terhadap spora bakteri, sehingga umumnya diatasi dengan penambahan hydrogen peroksida 3%. Kendati demikian, diperlukan perlakuan yang hati-hati selama produksi karena sifat hydrogen peroksida yang korosif .

Kebanyakan hand sanitizer juga mengandung bahan humektan untuk mengurangi kulit kering akibat penggunaan produk berbasis alkohol. Alkohol dapat menghilangkan sebum yang justru dibutuhkan untuk menjaga kelembapan kulit. Penggunaan bahan pewangi dan pewarna juga terkadang dilakukan untuk meningkatkan estetika produk, meski tidak disarankan karena risiko reaksi alergi. WHO merekomendasikan etanol dengan kadar 80% (v/v) dan isopropyl alkohol dengan kadar 75% (v/v) untuk digunakan sebagai disinfektan dengan kategori alcohol-based hand rub (72). Etanol (60-85%) paling efektif terhadap virus dibandingkan isopropanol (80%) dan n-propanol (60-80%).

Referensi:

  • Greenaway RE, Ormandy K, Fellows C, Hollowood T. Impact of hand sanitizer format (gel/foam/liquid) and dose amount on its sensory properties and acceptability for improving hand hygiene compliance. J Hosp Infect [Internet]. 2018 Oct 1;100(2):195–201. Available from: https://doi.org/10.1016/j.jhin.2018.07.011
  • Song X, Vossebein L, Zille A. Efficacy of disinfectant-impregnated wipes used for surface disinfection in hospitals: A review. Antimicrob Resist Infect Control. 2019;8(1):1–14.
  • WHO. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care [Internet]. Vol. 30, World Health Organization. Geneva; 2009. 270 p. Available from: http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789241597906_eng.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s