Ketika Peneliti Pun Butuh ‘Polisi’

graffiti-1041233_1920

Sekelompok peneliti di bawah Meta Research Center, Universitas Tilburg, Belanda telah bergerak dalam pengkajian bias dan galat dalam sains. Salah satu anggotanya, Chris Hartgerink membawa Statcheck ke publik. Statcheck merupakan sebuah piranti lunak yang mampu menganalisis apakah suatu penelitian menggunakan data yang benar atau tidak, hasil kerja keras kolega Hartgerink yaitu Michèle Nuijten. Nuitjen sebelumnya telah menggunakan piranti lunak ini untuk mengkaji penelitian-penelitian psikologi di berbagai jurnal pada tahun 2015.

Continue reading “Ketika Peneliti Pun Butuh ‘Polisi’”

Reflecting on Religious Tolerance in Indonesia

Indonesian Muslims attend an Eid al-Adha

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

After reading recent news from US (and more recently, Canada), I found that some Indonesians challenge the majority (read: Muslims) of this country to be more tolerant. They thought that if non-Muslims in both of North American countries could stand up for Muslims, Indonesian Muslims should do so, instead of just whining and playing as victims.

When I found some tweets addressing this issue, I gasped. I felt that they could make situation worse by stating their opinions in cynical tone. Thus, as an Indonesian Muslim, I have something to tell to you, dear readers. Based on the topic, I would like to focus on religious tolerance in Islam and the situations regarding that issue in Indonesia.

Continue reading “Reflecting on Religious Tolerance in Indonesia”

Saat Penjelajahan Berbuah ‘Penjajahan’

… Bukan kebetulan pula, kedua kata ini dalam kamus bahasa Indonesia adalah sinonim. Kita, yang dengan bangga menyebut diri sebagai penjelajah, pada hakikatnya juga adalah penjajah. Kita, bertopeng sebagai traveler atau backpacker yang menjanjikan kemakmuran ekonomi bagi mereka, sebenarnya adalah juga imperialis yang berdalih menikmati surga di bumi dengan harga yang murah meriah.

Turisme telah menjadikan tempat-tempat sebagai “atraksi”: “where to go” dan “what to see“, bagaikan kebun binatang manusia, dengan semua kandang menampilkan eksotisme masing-masing. Tradisi yang paling mati dihidupkan, yang hidup dikemas ulang supaya jadi yang paling memikat, biarpun palsu yang penting laku, “dijual” sebagai komoditas, dilempar ke pasaran turisme global. Para turis memilih-milih, paket mana yang paling memincut hati.

(Agustinus Wibowo dalam Titik Nol, halaman 182)

Continue reading “Saat Penjelajahan Berbuah ‘Penjajahan’”