Masyarakat Sumatera Barat, khususnya yang tinggal di Kota Bukittinggi, pastinya tak asing lagi dengan sebuah rumah sakit milik Provinsi Sumatera Barat, yakni RSUD Dr. Achmad Mochtar. Rumah sakit ini terletak di Jl. Abdul Rivai No.1 Bukittinggi dan punya tempat tersendiri di hati masyarakat setempat serta menjadi rumah sakit rujukan di provinsi ini.

RSUD Dr. Achmad Mochtar menjadi salah satu rumah sakit yang cukup saya kenal karena ayah saya pernah bertugas di sana selama beberapa tahun. Tidak seperti rumah sakit lainnya di Kota Bukittinggi yang harus efisien di lahan terbatas, RSUD Dr. Achmad Mochtar didirikan di lahan yang cukup luas dan memiliki beberapa kompleks gedung yang bersisian. Di depan gedung utama RSUD Dr. Achmad Mochtar, kita bisa melihat patung seorang ‘sarjana’ yang mengenakan toga dan topi, serta mengapit buku.

Saat saya masih anak-anak, saya sempat bertanya-tanya mengenai sosok yang diabadikan dalam patung tersebut. Mengapa patung tersebut tak seperti dokter yang mengalungkan stetoskop dan peralatan pemeriksaan? Mengapa malah tampak seperti seorang sarjana? Siapakah Dr. Achmad Mochtar ini sebenarnya? Pertanyaan ini tidak kunjung terjawab hingga bertahun-tahun lamanya, bahkan terlupakan. Beberapa tahun lalu, saya bersirobok dengan sebuah artikel yang membahas kiprah Dr. Achmad Mochtar di masa penjajahan, hingga nasibnya berakhir tragis di masa penjajahan Jepang. Namun, hanya sampai situ saja ketertarikan saya kala itu. Saya belum mencari tahu lebih lanjut.

Menjelang caturwulan terakhir 2021, saya melihat status salah seorang teman yang memuat judul buku Tumbal Vaksin Maut Jepang. Demi melihat subjudulnya, Biografi Prof. Dr. Achmad Mochtar, saya tergerak hendak membeli buku tersebut. Ironisnya, saya baru membeli buku ini pada Desember tahun lalu, dan menyelesaikannya di malam pergantian tahun. Buku ini berisi xiv+299 halaman, ditulis oleh Hasril Chaniago, Aswil Nazir, dan Januarisdi, dan diterbitkan oleh Pustaka Obor Indonesia.

Setelah membaca buku ini, saya merasakan perasaan bercampur aduk. Kagum dengan sosok Prof. Dr. Achmad Mochtar yang bukan saja dokter, tetapi juga ilmuwan yang produktif, khususnya di bidang penyakit infeksi. Sebagai putra daerah Minangkabau (tepatnya di Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman), kisah hidup beliau menjadi teladan bagi generasi muda. Dan tidak hanya mengabdikan ilmu demi ilmu itu sendiri, beliau juga menjadi pemimpin yang baik dan mengedepankan maslahat yang lebih besar. Saya akan nukilkan isi buku yang membahas biografi beliau tersebut secara ringkas dalam tulisan ini.

Achmad Mochtar dilahirkan di Nagari Ganggo Hilia pada 17 November 1891. Ibunya bernama Roekajah, suku Piliang, serta memiliki kakak laki-laki tertua bernama A. Hamid Bandaro Sati, seorang Kepala Laras Bonjol. Ayahnya bernama Omar Sutan Nagari, seorang guru kepala yang berasal dari Ganggo Mudiak. Achmad Mochtar memiliki enam saudara, tetapi tiga orang meninggal di waktu kecil. Hanya Siti Chairani dan Abdul Moeghni, adik-adiknya yang hidup sampai dewasa dan memiliki keturunan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Achmad Mochtar berada di tengah keluarga yang terpandang. Mamak (saudara laki-laki ibu)nya adalah Tuanku Lareh yang merupakan pejabat pribumi paling tinggi di masa itu, sedangkan ayahnya seorang guru kepala. Oleh karena itu, Achmad Mochtar belia memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Beliau bersekolah di Standaard School Bonjol, dan mendapatkan pendidikan agama, meski tidak tidur di surau karena mendapat pelajaran bahasa Belanda di rumah oleh ayahnya sendiri.

Sejak kecil, Achmad Mochtar sudah bercita-cita menjadi dokter. Pada waktu itu, sekolah dokter hanya ada di Jawa, dengan nama School tot Opleiding van Indlandsche Artsen/ Sekolah Kedokteran untuk Pribumi). Ayah Achmad Mochtar yang seorang guru kepala tahu bahwa hanya tamatan Europeesche Lagere School (ELS) yang bisa melanjutkan pendidikan ke STOVIA.

Setelah selesai kelas II, ayahnya memindahkan Achmad Mochtar ke ELS Fort De Kock (Bukittinggi sekarang) oleh ayahnya. Pendidikan di ELS diselesaikan dalam waktu 5 tahun, tepatnya pada akhir 1906. Awal tahun 1907, Achmad Mochtar tiba di kampus STOVIA, Batavia. Lama pendidikan di STOVIA adalah 10 tahun yang dibagi menjadi tingkat pendahuluan (3 tahun) dan pendidikan kedokteran (7 tahun). Semua siswa diharuskan tinggal di asrama.

Pada 21 Juni 1916, Achmad Mochtar dilantik menjadi dokter dan berhak atas diploma Indie Artsen (Ind. Arts.), setingkat di bawah Arts. , gelar pendidikan kedokteran yang diberikan di universitas Belanda. Achmad Mochtar juga disebut berada pada periode generasi emas, di mana jumlah lulusan yang dihasilkan pada tahun 1916 adalah terbanyak (selain pada tahun 1911). Periode pendidikan Achmad Mochtar di STOVIA juga beririsan dengan periode pergerakan kebangsaan Indonesia, yang diinisiasi oleh Boedi Oetomo.

Sebagai lulusan STOVIA, Dokter Achmad Mochtar menjalani penugasan di daerah yang ditentukan. Sebelum dilantik menjadi dokter, Achmad Mochtar menikah dengan Siti Hasnah. Ayah Siti Hasnah seorang jaksa pemerintah bernama H.M. Jasin, dan ibunya Siti Naisjah. Mereka menikah di Makassar karena waktu itu, H.M. Jasin bertugas di Makassar. Tak lama setelah menikah, beliau membawa istrinya ke Batavia untuk bersiap menuju Medan. Perjalanan waktu itu ditempuh dengan kapal laut. Dari Medan, Dr. Achmad Mochtar ditempatkan oleh Inspektur Kepala Dinas Kesehatan untuk wilayah Sumatra, Dr. W. Schüffner, untuk bertugas di Panyabungan.  Penugasan ini menjadi titik mula karier cemerlang Dr. Achmad Mochtar sebagai dokter pemerintah. Di bawah bimbingan Dr. W. Schüffner, beliau terlibat dalam upaya pemberantasan malaria, baik melalui pendekatan langsung ke masyarakat maupun melalui penelitian. Pada tahun 1919, Dr. Achmad Mochtar dipindahkan ke Sibolga dan produktivitasnya sebagai peneliti semakin meningkat. Setidaknya ada 5 karya ilmiah beliau yang diterbitkan selama kurun waktu 1916-1920. Selain itu, selama bertugas di Mandailing, terjadi penurunan kematian akibat malaria yang sangat drastis, dari 80 persen menjadi 12 persen pada 1920.

Selama bertugas di daerah Tapanuli, keluarga Achmad Mochtar mendapat kebahagiaan, berupa kelahiran putra pertama, Baharsjah Mochtar pada tahun 1918, dan putra kedua, Ade Imramsjah Mochtar yang dilahirkan di Sibolga. Setelah itu, Dr. Achmad Mochtar dipindahkan ke Tanjung Balai. Beliau diangkat menjadi Kepala Rumah Sakit Tanjung Balai pada tahun 1922. Kehidupan keluarganya pun semakin mapan.

Pertengahan 1923, Dr. Achmad Mochtar dan keluarga menuju Batavia untuk melanjutkan studi ke Belanda. Waktu itu bertepatan dengan kembalinya Dr. W. Schüffner ke Belanda, untuk bertugas sebagai pengajar di Universitas Amsterdam. Dr. Achmad Mochtar tiba di Belanda pada tahun 1923. Pada tahun 1924, beliau lulus ujian pertama untuk akte dokter. Setelahnya beliau melanjutkan studi doktoral di bawah bimbingan Dr. W. Schüffner. Topik riset Dr. Achmad Mochtar adalah tentang Leptospira, yang waktu itu disebut sebagai penyebab demam kuning oleh ilmuwan Jepang. Dr, Noguchi Hideyo. Namun, penelitian disertasi Dr. Achmad Mochtar justru membuktikan hasil yang berbeda. Setelah tiga tahun, Dr. Achmad Mochtar akhirnya berhasil mendapat gelar Doktor di bidang kedokteran pada tahun 1927. Disertasi beliau berjudul Onderzoekingen omtrent eenige leptospirenstammen yang menggugurkan hipotesis Dr. Noguchi bahwa leptospira menyebabkan penyakit demam kuning.

Pada Oktober 1927, Dr. Achmad Mochtar kembali ke tanah air bersama keluarga. Beliau diangkat menjadi kepala rumahsakit pemerintah di Bengkulu (1928) dan Semarang (1932). Selama periode ini, beliau terus aktif dalam pemberantasan penyakit menular dan penelitian. Beliau pun dipromosikan sebagai pemimpin bagian Bakteriologi di Eijkman Instituut (Lembaga Eijkman, atau Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sekarang) pada 1937. Sejak 1939/1940, beliau juga merangkap sebagai wakil direktur di bawah Direktur Dr. W.K. Martens. Penelitian terus beliau lakukan dan hasilnya dipublikasikan di jurnal bereputasi. Sejak 1929 hingga 1942, sebanyak 25 karya Dr. Achmad Mochtar telah dipublikasikan.

Pada tahun 1942, Jepang mendarat di Indonesia, Belanda yang sebelumnya berkuasa, menyerah tanpa syarat. Sebagian masyarakat mengelu-elukan kedatangan Jepang yang dianggap menumbangkan superioritas ‘kulit putih’. Namun, dengan kedatangan Jepang, semua ahli Belanda yang bekerja di berbagai institusi, termasuk Eijkman Instituut ditangkap dan diinternir. Dengan demikian, Dr. Achmad Mochtar, yang sebelumnya menjabat wakil direktur, diangkat sebagai Direktur lembaga tersebut. Pada tahun 1943, sekolah tinggi kedokteran (Geneeskundige Hooge School/GHS) yang sempat ditutup pada awal pendudukan Jepang, dibuka kembali dengan nama Ika Daigaku. Dr. Achmad Mochtar diangkat menjadi wakil dekan dan ditetapkan sebagai guru besar.

Namun, pada Agustus 1944, terjadi sebuah tragedi yang dinamakan “Tragedi Romusha Klender”. Di Klender, Jakarta, terdapat kamp romusha, yang disebut sebagai ‘kamp percontohan’ karena lokasinya dekat dengan tokoh nasional Indonesia, serta memperlihatkan kehidupan yang sehat dan penjaga yang relatif ramah. Untuk mempersiapkan para romusha, dilakukan pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi. Penyuntikan vaksin diawasi oleh Dr. Marah Achmad Arief dan Dr. Soeleman Siregar, dua orang dokter lulusan STOVIA.

Ratusan romusha yang divaksinasi menunjukkan gejala demam dan kejang yang serius. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa gejala yang terjadi menunjukkan tetanus akut. Diketahui pula vaksin yang diberikan memiliki label Tifus, Cholera, Disentri (TCD). Sebanyak 90 orang dibawa ke rumah sakit Ika Daigaku (sekarang RSCM) untuk mendapat terapi antitetanus. Dalam waktu kurang dari 24 jam, semua romusha yang dibawa meninggal dunia. Ratusan orang yang masih berada di kamp tidak diketahui nasibnya, dan berkemungkinan tewas.

Pada tanggal 7 Oktober 1944, Dr. Achmad Mochtar dijemput oleh Kenpeitai (polisi militer Jepang) pada saat makan siang di rumahnya. Selain Dr. Achmad Mochtar, sejumlah staf Lembaga Eijkman, Dinas Kesehatan Jakarta, dan Ika Daigaku juga ditangkap. Setidaknya ada 19 orang yang ditangkap dan ditahan di penjara yang terletak di markas Kenpeitai (bekas Recht Hogeschool, kini Kantor Kemenhan RI). Penangkapan ini ternyata dilakukan untuk menutupi tragedi kematian romusha di Kamp Klender, dengan tuduhan bahwa vaksin ini dicemari oleh racun tetanus oleh Achmad Mochtar sebelum disuntikkan.

Selama ditahan, para staf mendapatkan perlakuan tidak manusiawi, interogasi, dan siksaan keji. Dr. Marah Achmad Arief dan Dr. Soeleman Siregar meninggal dunia. Belakangan, sebagian besar dari mereka yang ditahan akhirnya dibebaskan , di antaranya Dr. Marzoeki, Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, dan Dr. Moh. Ali Hanafiah, yang bertugas di Ika Daigaku dan lembaga Eijkman. Dr. Moh Ali Hanafiah juga merupakan adik ipar Dr. Achmad Mochtar sendiri. Pembebasan ini dilakukan karena Jepang sudah mendapatkan ‘target’nya yaitu pengakuan Dr. Achmad Mochtar sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap ‘tercemarnya vaksin TCD tersebut. Tuduhan ini tentunya tidak berdasar dan juga keji, tetapi Dr. Achmad Mochtar merelakan nyawanya sendiri agar sejawat dan stafnya bebas. Dr. Achmad Mochtar dieksekusi pada 3 Juli 1945, tak sampai 2 bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, di Ancol.

Meski kekejian ini terkubur sekian lama, kebenaran perlahan terkuak melalui kesaksian para korban, termasuk Jatman, salah satu staf laboratorium yang bertugas di Lembaga Eijkman, serta Prof. Dr. Moh Ali Hanafiah yang gigih mengumpulkan kesaksian dan menulis buku yang berjudul Drama Kedokteran Terbesar. Pada 28 Februari 1965, Prof. Dr. Achmad Mochtar mendapat penghargaan Karyawan (anumerta) Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Pada tahun 1972, beliau dianugerahi Bintang Tanda Jasa Nararya. Lalu, pada tahun 1980-an, Gubernur Sumatra Barat, Ir. Azwar Anas, mengusulkan nama Dr. Achmad Mochtar menjadi nama RSUD Provinsi Sumatra Barat di Kota Bukittinggi.

Dari kisah hidup beliau, banyak sekali yang dapat saya ambil hikmahnya. Selain mengenai dedikasi Prof. Dr. Achmad Mochtar sebagai putra bangsa dan cendekiawan, saya juga belajar mengenai pengorbanan. Saya menjadi lebih paham bahwa di dalam sejarah, ada kisah yang tertutup tabir dan berada di irisan antara kepentingan-kepentingan yang berbeda. Tragedi Klender ini sejatinya merupakan kejahatan perang, tapi tak banyak terdengar namanya, tidak seperti tragedi serupa di Jerman sana. Namun, sebagai generasi muda, sudah seharusnya kita belajar dari sejarah, mengenal apa yang sebenarnya terjadi agar mampu menghadapi masa depan dengan lebih baik.

2 thoughts on “Mengenang Achmad Mochtar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s